Asas-Asas Pokok Penyataan Allah

Nas:

Ibrani 5:11-14 (TB)
Tentang hal itu banyak yang harus kami katakan, tetapi yang sukar untuk dijelaskan, karena kamu telah lamban dalam hal mendengarkan.
Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras.
Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.
Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.

Pendahuluan

Surat Ibrani dituliskan oleh rasul Paulus kepada orang-orang Yahudi-Kristen lahirbaru diaspora. Karena posisi mereka yang berada di tempat asing, diluar daratan Palestina, yang dipenuhi oleh orang-orang yahudi penolak Kristus, mereka banyak mendapatkan tekanan secara rohani. Penulis surat ini berusaha untuk memperkuat iman mereka kepada Kristus dengan menjelaskan secara teliti keunggulan dan ketegasan penyataan Allah dan penebusan di dalam Yesus Kristus.

Ia menunjukkan bahwa penyediaan penebusan di bawah perjanjian yang lama sudah digenapi dan tidak terpakai lagi karena Yesus telah datang dan menetapkan suatu perjanjian yang baru oleh kematian-Nya

Ada kemungkinan sebagian orang Kristen Yahudi yang sebelumnya telah menerima keselamatan ini, kembali kepada praktik dan ritual Yudaisme supaya mereka tidak dianiaya, dikucilkan dan sebagainya. Salah satu tujuan surat ini dituliskan adalah untuk menyerukan kepada mereka yang mengalamai berbagai intimidasi, diskriminasi, aniaya dan sebagainya untuk tetap hidup di dalam anugerah Yesus Kristus, dan tidak menyia-nyiakannya (Ibr. 2:3 bnd. 1 Kor. 15:2).

Asas-Asas Pokok Penyataan Allah

Sampai di pasal kelima, Paulus melihat banyak dari mereka jika ditinjau dari segi waktu, seharusnya sudah menjadi pengajar. Ini berarti mereka bukan orang-orang yang baru diperkenalkan tentang Kristus Yesus.

Paulus begitu mengenal mereka, sangat mungkin sebagian mereka pernah diajar oleh Paulus dalam kelas-kelas Teologi di ruang kuliah Tiranus (Kis. 19:9).

Namun demikian, Paulus dengan inspirasi dan hikmat Roh Kudus, mendapati mereka lamban bertumbuh dalam pengenalan akan ajaran-ajaran / doktrin-doktrin atau asas-asas dari penyataan Allah.

Mengapa bisa demikian? Bagaimana dengan kita? Sudah berapa lama saudara menjadi seorang Kristen atau bahkan mungkin ada yang sudah cukup lama melayani? Sungguhkah pembaca telah memahami INTI dari segala sesuatu Penyataan Allah? Sungguhkah anda diselamatkan (pasti masuk Sorga)? Jelaskah anda jalan lurus ke Sorga itu yang bagaimana? Jelaskah anda mengenai Tuhan Yesus Kristus yang asli dan benar berdasarkan penyataan Allah? Jelaskah anda bagaimana asas-asas pokok penyataan Allah dalam firmanNya yang harus diterapkan secara benar dan Alkitabiah dalam gereja?

Mari kita lebih memperjelasnya saat ini mengenai asas-asas pokok penyataan Allah sehingga sekiranya ketika dalam sudut waktu kita seharusnya sudah menjadi pengajar (pemberita Injil Kebenaran) kita mantap melaksanakannya.

Sebelum menjadi seorang pengajar tentu harus mantap dahulu apa yang ia akan ajar atau yakini adalah kebenaran. Atau sebelum ia pergi memberitakan tentang Injil, ia harus pastikan dahulu isi berita Injil itu adalah benar (Alkitabiah) dan tidak menyimpang / salah.

Mari kita melihat tiga Asas Pokok Penyataan Allah dalam firmanNya yang sempurna itu (Alkitab):

Tuhan memberi kita 2 alat untuk menyelidiki segala sesuatu, mengetahui dan melaksanakan asas-asas pokok penyataanNya, yaitu Alkitab dan Akal budi (sehat).

Dua hal ini harus selaras dan tidak boleh dihilangkan salah satunya. Ada Alkitab, tetapi tidak memakai pertimbangan Akal budi yang sehat/baik, maka yang timbul sangat mungkin adalah hal-hal mistik dan tahayul. Tidak mungkin membaca Alkitab TANPA mengaktifkan akal budi kita

Sebaliknya, pakai Akal budi, tetapi tidak berdasarkan pada sudut pandang Alkitab, maka akan muncul filsafat manusia yang kosong (Kol. 2:8).

Berikut Tiga Asas Pokok Penyataan Allah:

A. Apakah kata Allah dalam Alkitab mengenai jalan keselamatan manusia (soteriologi),

B. Apakah kata Allah dalam Alkitab mengenai Alkitab itu sendiri (bibliologi), dan

C. Apakah kata Alkitab mengenai praktik-praktik gereja yang Alkitabiah (Ekklesiologi).

Catatan :

  • Bibliologi adalah DASAR semua pengajaran (doktrin) Kekristenan. Sebab semua doktrin kekristenan yang benar haruslah didasarkan pada SELURUH ayat-ayat Alkitab.
  • Soteriologi adalah PUSAT dari semua doktrin Kekristenan. Sebab segala yang TERTULIS dalam Alkitab pada intinya berpusat pada Keselamatan dati Allah Pencipta kepada Umat manusia ciptaanNya yang telah jatuh ke dalam dosa.
  • Ekklesiologi adalah PINTU dari segala doktrin Kekristenan. Sebab segala pengajaran Alkitab disalurkan atau digaungkan melalui Gereja, yang adalah Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran (1 Tim. 3:15). Karena di Perjanjian Baru Allah memakai Jemaat sebagai TPDK, maka untuk menjadi kokoh, sebuah Gereja HARUS memberitakan pengajaran maupun melaksanakan praktik-praktik yang benar dan Alkitabiah.

Asas Pokok Keselamatan yang Sesuai dengan firmanNya – SOTERIOLOGI

A). Sejak manusia (Adam dan Hawa) jatuh ke dalam dosa, ia menjadi orang berdosa, sekecil apapun dosanya. Karena Sorga tempat yang mahakudus dan Allah adalah pribadi Yang Mahakudus, maka orang berdosa tidak bisa menghampiri Allah di Sorga.

Menurut Alkitab, Allah Yang Mahaadil menghendaki dosa diselesaikan dengan SATU CARA, yaitu DIHUKUMKAN (Rom. 6:23). Dosa tidak dapat diselesaikan dengan usaha manusia (beramal, bertapa, berbuat baik, dll).

Ini adalah berita buruk untuk manusia karena ternyata tidak ada seorangpun yang tidak berdosa (Rom. 3:23) maka semua orang pantas menerima upahnya, yaitu maut (yaitu Api Neraka yang Kekal). Tetapi Puji Syukur, Alkitab tidak berhenti sampai memperkenalkan Allah sebagai pribadi yang mahakudus dan mahaadil, Ia juga adalah pribadi mahakasih.

Oleh karena itu, Tuhan Yesus, yang adalah Allah Pencipta itu sendiri, datang ke dunia menjadi manusia dan MENANGGUNG dosa SEISI dunia (Fil. 2:7; Yoh. 3:16; 1 Yoh. 2:2). Inilah kabar baiknya, yaitu bahwa ada jalan penyelesaian atas perbuatan dosa manusia dan manusia bisa mendapatkan KEPASTIAN masuk Sorga.

Manusia TIDAK PERLU lagi dihukum atas dosa-dosanya karena sudah ada yang menggantikannya. Allah telah menyelesaikan karya keselamatan-Nya, kini manusia hanya dituntut untuk menerima kasih karunia-Nya.

Pengajaran keselamatan yang sesuai dengan Alkitab (Alkitabiah) adalah bahwa seseorang mendapat KEPASTIAN masuk Sorga HANYA dengan Bertobat (mengaku diri orang berdosa dan menyesalinya) dan Percaya (Setuju/mengaminkan bahwa Tuhan Yesus sudah tersalib bagi SELURUH dosanya dan kini ia hidup bagi Yesus) – Mrk. 1:15; Ef. 2:8; Yoh. 3:16; Fil. 1:21

B). Hanya ada SATU jalan menuju Sorga, yaitu melalui Yesus Kristus (Yoh. 14:6), baik orang-orang di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Bedanya, orang-orang di PL Beriman (Bertobat dan Percaya) kepada Juruselamat YANG AKAN DATANG (Gal. 3:6-8), sementara orang-orang di PB (termasuk kita) Beriman kepada Juruselamat YANG SUDAH DATANG.

Tuhan yang konsisten berkepentingan membuat HANYA satu jalan keselamatan dari zaman manusia pertama (Adam) sampai manusia terkahir di muka bumi.

Tetapi iblis (yaitu malaikat pembangkang – lucifer) SANGAT berkepentingan membuat SEBANYAK-BANYAKNYA jalan (Ams. 14:12) supaya kalau manusia berhasil lolos di jalan yang satu, kemungkinan akan masuk ke jalan yang kedua, demikian seterusnya, sehingga ada istilah keluar dari mulut buaya masuk ke mulut Singa.

Iblis sejak semula amat haus akan penyembahan (Mat. 4:9) dan terus berusaha tanpa kenal lelah menggiring sebanyak mungkin manusia menuju jalan kesesatan dan berpaling dari Sang Pencipta.

C) Ketika seseorang telah Bertobat dan Percaya dengan segenap hati kepada Sang Juruselamat, maka saat itu juga, dia mendapatkan hal-hal istimewa, yaitu:

i). Dimeteraikan dengan Roh Kudus (Ef. 1:13) sehingga menjadi/disebut ORANG KUDUS (1 Kor. 1:2; Ef. 1:1).

Roh Kudus tetap tinggal dalam diri orang percaya tersebut selagi yang bersangkut tetap TINGGAL di dalam iman yang benar (1 Yoh 4:15).

Penerapannya:

Praktik meminta Roh Kudus hadir saat kebaktian adalah tidak perlu dan kekeliruan karena Roh Kudus tinggal tetap di hati orang percaya dan tidak pergi kemana-mana. Selain itu, ini juga adalah bentuk penghujatan, sebab Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang tidak boleh sembarang diperintah oleh kita.

Penerapan kedua:

Praktik dan istilah yang benar adalah Perjamuan Tuhan, bukan Perjamuan Kudus:

  • Istilah yang sesuai Alkitab = Perjamuan Tuhan (1 Kor. 10:21, 11:20).
  • Karena maknanya adalah untuk MENGINGAT akan Tuhan, bukan untuk menguduskan ( Luk. 22:19; 1 Kor. 11:24). Kita menjadi Kudus seutuhnya hanyalah dengan menerima anugerah penebusan Tuhan Yesus melalui iman (Ef. 1:1, 13).

Catatan tambahan: Istilah Perjamuan Kudus ( Holy communion) berasal dari Gereja Roma Raya/Katolik, yang berdiri sejak abad ke-4 AD.

Mereka memakai istilah itu karena memang mereka memahami praktik upacara itu untuk menguduskan, maka itu disebut sakramen (berasal dari kata “sakral” yg artinya kudus).

Tetapi kita yang mau sesuai Alkitab haruslah memahami dan melakukan perintah (ordonansi) Perjamuan Tuhan, sebagai peringatan akan Dia, bukan supaya kudus.

Penerapan ketiga:

Tidak perlu/boleh dilakukan acara pelepasan lagi atau “urap mengurap” Karena seriap orang yang telah pahir baru (bertobat & percaya) telah DIBEBASKAN dari kuasa kegelapan dan telah menerima pengurapan langsung dari Roh Kudus tanpa perantara (Ef. 1:13; Kol. 1:13; 1 Yoh. 2:20, 27).

ii). Menjadi anak Allah (Yoh. 1:12)

iii). Menjadi Imam atas dirinya sendiri, bahkan imamat yang rajani (1 Pet. 2:9)

Penerapannya:

Dalam gereja Tuhan yang benar, tidak lagi ada jabatan imam ataupun bentuk praktik keimamatan.

Salah satu bentuk praktik ‘keimamatan” adalah misalnya ketika di akhir kebaktian ada pemimpin gereja yang mengangkat tangannya untuk doa berkat kepada jemaatnya.

Pernah ada seorang wanita yang bercerita, di gerejanya ketika “pendeta”nya di mimbar mengangkat tangan doa berkat, maka jemaatnya yang dibawah diperintahkan menadahkan tangan menerima berkat. Ini jelas adalah praktik keimamatan.

Dulu, Allah pernah menetapkan setiap ayah menjadi imam atas keluarganya (dari zaman Adam hingga Harun), inilah zaman family altar . Oleh karena itu kita membaca dalam Alkitab Nuh, Abraham, Ayub, Ishak, Yakub mereka memberkati anak2 mereka.

Tetapi karena banyak ayah yang tidak beres, Allah menghapus otoritas mereka, lalu diganti kepada Harun dan keturunannya lagi-lagi yang menjabat sebagai imam (Kel. 28; Bilangan 3).

Sejak saat ini zaman “Family Altar” berakhir, dan kita membaca misalnya Daud, Salomo, dll tidak lagi memberkati anak2 mereka secara langsung melainkan melalui perantara imam (pada zaman Daud imamnya adalah Abyatar dan Zadok).

Sekarang, yaitu zaman PB, sejak Yohanes pembaptis tampil, Hukum Taurat dan Kitab para Nabi digenapi atau berakhir masanya sebab Yang Dijanjikan Sudah Tiba, Yaitu Mesias ( Luk. 16:16; Mat. 11:14; Luk. 24:44).

Maka sejak saat ini sampai kedatanganNya yang kedua, Setiap Orang Percaya adalah Imam (1 Pet. 2:9).

Catatan dan peringatan: Jikalau ada orang berlagak menjadi imam padahal Tuhan tidak otoritaskan kepadanya, maka dia sudah bertindak seperti Korah (Yud. 1:11). Tuhan amat marah dengan Korah sampai membinasakannya dengan cara yang mengerikan (Bilangan 16).

D. Inilah INJIL yang murni yang TIDAK boleh ditambahkan atau dikurangkan. Tidak boleh ditambah dengan HARUS melakukan perbuatan baik supaya bisa masuk Sorga, HARUS hidup sempurna, HARUS dibaptis, dan lain sebagainya.

Lalu, apakah demikian orang yang sudah bertobat dan percaya tidak perlu berbuat baik? Apakah faedah/manfaatnya perbuatan baik seorang yang sudah diselamatkan (Bertobat dan percaya)?

Sangat perlu. Kita (orang Percaya) berbuat baik dan hidup semakin kudus adalah karena kita mau HIDUP bagi Yesus (Fil. 1:21) dan mendapatkan UPAH (1 Kor. 3:11-15; Rom. 8:18) serta memuliakanNya dengan menjadi terang dan garam (Mat. 5:13-14; Rom. 12:1-2).

Jadi berbuat baik, BUKAN lah supaya masuk Sorga (karena kita diselamatkan oleh iman, bukan perbuatan – Ef. 2:8-9) melainkan justru KARENA sudah pasti masuk Sorga dan mau bercahaya di dunia (Mat. 5:13-14) agar tidak menjadi batu sandungan, melainkan bisa membawa jiwa kepada Tuhan melalui pola hidup yang benar.

Dan dibaptis bukan untuk masuk Sorga melainkan untuk menjadi murid (Mat. 28:19-20), yaitu menjadi anggota jemaat yang lokal dan independen.

Asas Pokok Pengajaran Tentang Alkitab – Bibliologi

A). Sebelum Alkitab selesai ditulis, Allah memakai WAHYU UMUM Nya, yaitu alam semesta, hati nurani, dan perjalanan sejarah manusia supaya manusia bisa yakin ada Sang Pencipta yang membuat dunia ini.

Untuk mengenal-Nya lebih dalam lagi, Allah memberikan wahyu khusus kepada umat manusia, yaitu undian, urim dan tumim, Kristofani, mimpi, penglihatan, malaikat, nabi, rasul. Nabi menulis kitab PL dan rasul menulis kitab PB.

Akhirnya, sampailah kepada satu kitab yang tertulis, definit, lengkap, dengan kata lain SEMPURNA, yaitu Alkitab yang merupakan hasil karya Roh Kudus (2 Tim. 3:16-17; 2 Pet. 1:20; 1 Kor. 13:9-10).

B). Kita percaya bahwa Alkitab adalah SATU-SATUNYA firman Allah yang lengkap (1 Kor. 13:9-10; 2 Tim. 3:16-17) atau Kanon Tertutup. Maka itu diluar Alkitab (baik lisan maupun tertulis) bukanlah firman Allah.

Penerapannya:

Segala bentuk pewahyuan Lisan (bahasa lidah, nubuat, mimpi, penglihatan/visi, malaikat, nabi, rasul) maupun tertulis (kitab mormon, Eddy baker, al-quran dll) yang MUNCUL setelah Alkitab (PL dan PB = 66 kitab) selesai ditulis 100% bukan dari Allah, melainkan musuh Allah yang ingin menghancurkan kredibilitas Alkitab (Mzm. 11:3).

C). Oleh karena itu juga maka jabatan rasul dan nabi tidak lagi diperlukan setelah Alkitab selesai. Sebab para nabi dan rasul adalah fondasi terbentuknya Alkitab (Ef. 2:20). Sementara gembala, guru (pengajar), penginjil (pemberita Injil) masih diperlukan untuk mengajar firman Allah (Ef. 4:11-12).

D). Alkitab adalah SATU-SATUNYA firman Allah, maka kita bisa yakin juga bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya Jalan keselamatan. Hanya Alkitab satu-satunya otoritas yang HARUS kita yakini dan mendasari segala pengajaran kita.

Segala bentuk ajaran lain (tradisi, dekrit Paus, kesaksian subjektif, dll) adalah bukan otoritas dan bertentangan dengan Alkitab dan adalah suatu bentuk tindak-tanduk antikristus di akhir zaman (Yesus, roh, injil yang lain 2 Kor. 11:4) dan terkutuk (Gal. 1:8-9).

E). Hari ini, kalau orang ingin tahu dan mendapatkan KEBENARAN (Mat. 6:33; 1 Tim. 2:3-4) maka ia harus mencari, merenungkan, menyelidiki, mengujinya berdasarkan dan di dalam Alkitab.

Pengajaran (dotrin) yang BENAR seharusnya adalah ajaran yang paling sesuai dengan seluruh ayat Alkitab, tidak saling bertentangan satu bagian dengan bagian lainnya, dan yang paling logis.

F). Ketika ada 2 pernyataan yang berbeda/bertentangan, maka akal sehat kita menyimpulkan bahwa tidak mungkin keduanya benar. Kalau pihak A benar, maka B salah, demikian sebaliknya.

Untuk memastikan mana yang benar dan salah, keduanya harus diuji dengan SELURUH ayat Alkitab sebagai standar kebenaran sesungguhnya.

Kesimpulan yang benar adalah yang paling banyak di dukung ayat Alkitab, tidak saling bertentangan satu dengan lainnya, dan yang paling logis.

Asas Pokok Tentang Gereja Tuhan – Ekklesiologi

A). Sejak Yohanes Pembaptis tampil, Allah menerapkan sistem ibadah yang baru, yaitu HAKEKAT, ROHANIAH, dan dalam KEBENARAN (HRK) – Luk. 16:16: Mat. 11:13; Yoh. 4:23.

Sebelumnya, di zaman P.L., Allah menerapkan sistem ibadah SIMBOLIK, RITUALISTIK, dan JASMANIAH (SRJ).

SRJ dibatasi oleh waktu (3x sehari), posisi (mengahadap atau kiblat ke Timur), dan cara(berlutut/sujud) – Dan. 6:11.

Sementara sistem ibadah HRK tidak dibatasi ke-tiganya karena menyembah dengan hati (roh) dan dalam kebenaran (Yoh. 4:23).

B). Oleh karena itu, perintah untuk “Mari angkat tangan menyembah Tuhan” adalah sesuatu yang tidak diperlukan lagi dan adalah kekeliruan di dalam zaman ibadah Hakekat, sebab seolah-olah kalau tangannya tidak diangkat (turun) tidak dalam menyembah Tuhan.

Padahal, kini, Tuhan melihat sikap hati kita yang sujud menyembah Dia, bukan postur tubuh kita.

Implikasi kedua: Didalam acara kebaktian seringkali penulis dengar masih ada praktik atau perintah ” Mari kita msauk dalam penyembahan “.

Ini juga hal yang tidak perlu karena di zaman ibadah HRK segala tempat dan waktu adalah tempat ibadah kita. Jadi, bagaimana mungkin “masuk” lagi?

Hasil berikutnya dari sistem ibadah HRK adalah tidak ada lagi istilah ruang kudus, tempat suci, air suci, dll sebagaimana sistem ibadah SRJ di Perjanjian Lama. Tanah di Israel sekarang dengan di Indonesia sama saja, tidak ada beda.

Kemudian, kita menyebut hari minggu adalah sebagai acara kumpul berjemaat bukan ibadah :

Matius 18:20
Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Kisah Para Rasul 20:7
Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.

1 Korintus 11:18
Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu berkumpul sebagai Jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.

Ibrani 10:25 (TB) “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

Hebrews 10:25 (KJV) Not forsaking the assembling of ourselves together, as the manner of some is; but exhorting one another: and so much the more, as ye see the day approaching.

Ibrani 10:25 (TR1894) μη εγκαταλειποντες την επισυναγωγην εαυτων καθως εθος τισιν αλλα παρακαλουντες και τοσουτω μαλλον οσω βλεπετε εγγιζουσαν την ημεραν

Catatan : Dalam Ibrani 10:25, kata “ibadah” tidak ada dalam bahasa aslinya (Yunani) dan tertulis dengan lebih benar dalam terjemahan di KJV.

C) Berdoa adalah komunikasi anak (kalau sudah bertobat dan percaya) kepada Bapa. Ini bisa dilakukan sambil mengndarai mobil, memasak, dll, tidak terpatok HARUS tutup mata, angkat tangan dll sebab Allah melihat sikap hati kita. Tetapi demi supaya konsentrasi dengan baik, apalagi karena ingin serius maka kita memilih untuk tutup mata, ini pilihan yang sangat baik.

Penutup

Akhirnya pembaca sekalian, apakah saat ini anda masih memerlukan susu dan bukan makanan keras? Yang perlu makanan keras adalah mereka yang sudah sungguh-sungguh diselamatkan dan MAU bertumbuh baik dalam pengenalan akan Tuhan setepat mungkin maupun dalam praktik iman yang semakin konsisten.

Tuhan menginginkan kita semua untuk:

1 Timotius 2:4 (TB) yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

Marilah menjadi seorang Kristen berpengertian, cepat mendengar (dan tidak lamban), rindu akan kebenaranNya, niscaya anda akan berdiri dengan teguh atas kebenaranNya sekalipun hal-hal materi, jasmani, duniawi dan intimidasi mengancam anda.

Tuhan Yesus Kristus, Sang Khalik kiranya menuntun saudara, MARANATHA!

Tinggalkan Balasan