Doa Bapa Kami

Doa Bapa Kami

Doa Bapa Kami : Konteks, Pengertian Dan Makna

Nats: Mat.6:9-13

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya.Amin.]”

Pendahuluan

“Doa Bapa Kami” adalah doa yang diucapkan oleh Tuhan Yesus untuk diajarkan kepada murid-muridNya.

Istilah “Doa Bapa Kami” dikenal Di Indonesia, karena mengikuti tradisi Belanda dan Gereja Katolik, yang enyebutnya Doa Bapa Kami. Sedangkan di Inggris dan Amerika menyebutnya doa ini dikenal dengan istilah “Doa Tuhan” (The Lord’s Prayer).

Beberapa Hal Yang Harus Dipahami

Sebelum mempelajari makna tiap bagan di dalam Doa ini, seseorang harus memahami beberapa hal terlebih dahulu.

PERTAMA seseorang harus memahami bahwa kedatangan Tuhan yang pertama sesungguhnya adalah penggenapan janji Allah untuk mendirikan Kerajaan Daud yang tak berkesudahan yang kini kita menyebutnya Kerajaan Seribu Tahun (Kis.1:6-7).

Seluruh pemberitaan dan pengajaran bagian awal pelayanan Tuhan difokuskan untuk tujuan tersebut. Kata Tuhan, jika bangsa Yahudi menerima Yohanes maka ia adalah Elia (Mat.11:13-14) yang berarti juga pasti akan menerima Yesus sebagai Mesias. Karena dalam nubuatan Maleakhi, kedatang Mesias (Hari Tuhan) akan didahului oleh kedatangan “Elia” yang akan membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-nya demikian sebaliknya (Mal. 4:5-6). Hal ini sebenarnya tergenapi dalam diri Yohanes pembaptis (Luk. 1:17) jika mereka menerimanya.

Kata “jika” (Yunani: ei) pada ayat 14 memiliki arti yang sangat penting. Kata ini mengandung unsur “kemungkinan”. Ayat ini bisa dimengerti hanya jika seseorang memahami hakekat “kehendak bebas” (free will) yang Allah berikan kepada manusia. Tanpa memahami bahwa Allah memberikan kehendak bebas kepada manusia sejak penciptaannya, tidak mungkin dapat mengerti kata if atau ei pada Matius 11:14.

KEDUA, pada faktanya, ternyata bangsa Yahudi tidak menerima Elia sehingga ia menjadi Yohanes Pembaptis. Penolakan terhadap Elia sama artinya dengan penolakan terhadap Sang Mesias yang diperkenalkannya. Dengan demikian maka Kerjaan Seribu Tahun atau Kerajaan Daud yang dijanjikan “ditunda” waktunya sehubungan dengan penolakan bangsa Yahudi terhadap raja mereka.

KETIGA, menurut kitab Daniel, sebelum memasuki Kerajaan Daud atau Kerajaan Seribu Tahun, bangsa Yahudi akan memasuki satu masa yang disebut masa kesusahan bagi Yakub atau masa penganiayaan bangsa Yahudi (Yer. 30:7; Dan. 12:1).

Dinubuatkan juga dalam kitab Daniel pasal 9:27 bahwa itu adalah suatu kesusahan yang belum pernah terjadi. Jadi, khotbah Tuhan Yesus dibukit dalam Matius pasal 5 hingga 7 adalah khotbah mengantisipasi pendengarNya untuk memasuki masa kesusahan selama 7 tahun jika mereka (bangsa Yahudi secara nasional) menerima kemesiasanNya.

Jika sebagian besar bangsa Yahudi mengakuiNya sebagai Mesias yang berarti menerima Dia sebagai Raja, maka Yesus tetap akan disalibkan sesuai dengan nubuatan kitab P.L. dan pengikutNya akan mengalami penganiayaan selama 7 tahun oleh pemerintahan Romawi yang adalah pemerintahan dunia saat itu.

Tetapi kenyataan yang kita dapatkan adalah bahwa bangsa Yahudi menolak Yohanes dan menolak Mesias mereka. Untuk itu Rasul Paulus menjelaskan bahwa karena penolakan bangsa Yahudi, maka anugerah keselamatan dialihkan kepada bangsa non-Yahudi. Namun untuk memahami makna khotbah Tuhan Yesus dibukit yang tercatat dalam Matius 5 hingga 7, seseorang mutlak harus memahami tentang eschatology Yahudi.

Masa kita saat ini tidaklah terdapat dalam eschatology Yahudi. Bermodalkan back-ground knowledge inilah seseorang akan lebih memahami tentang Doa Bapa Kami.

Doa Bapa Kami adalah sebuah pola yang Tuhan ingin, diikuti oleh para muridNya dalam mengantisipasi penganiayaan yang akan mereka alami jika sebagian besar bangsa Yahudi menerimaNya. Ketika doa ini diajarkan, Yesus Kristus belum ditolak oleh bangsa Yahudi. Suasana saat itu ialah suasana mengantisipasi penganiayaan jika mereka menerima.

Khotbah Di Bukit yang tercatat dalam Injil Matius pasal 5 hingga 7 sesungguhnya adalah pengumuman Tuhan tentang karakter (5:1-16), undang-undang (5:17-48), dan prinsip-prinsip (6:1-7:29) kerajaanNya. Jadi “Doa Bapa Kami” termasuk dalam prinsip-prinsip Kerajaan Seribu Tahun yang Tuhan ajarkan kepada murid-muridNya untuk membekali mereka dalam memasuki masa penganiayaan 7 tahun sebagaimana dinubuatkan Daniel (Dan.9:27).

KEEMPAT, Doa Bapa Kami adalah sebuah bagan doa, bukan doa hafalan seremonial yang harus di hafal dalam kebaktian atau pertemuan Jemaat. Kekristenan tidak memiliki mantra untuk dihafalkan yang jika dilakukan maka akan ada khasiat supranatural tertentu. Sistem ibadah Perjanjian Baru (saat ini) adalah ibadah didalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23), yaitu ibadah dengan hati. Pada hari Minggu kita tidak datang menyembah Tuhan di gereja, melainkan datang berjemaat. Kita menyembah Tuhan dengan hati kita, dan tidak terbatasi oleh waktu, tempat bahkan sikap tubuh kita. Pada Minggu pagi kita datang berjemaat, bernyanyi, berdoa, mempelajari kebenaran firman Tuhan, bukan untuk menyembah. Banyak orang Kristen tidak memahami ibadah sejati Perjanjian Baru (bila ingin tahu lebih lanjut mengenai Ibadah Hakekat di PB dan Ibadah Simbolik di PL, dapat menghubungi penulis)

Makna-Makna Penting Dalam Doa Bapa Kami

Doa Bapa Kami adalah sebuah bagan doa yang Tuhan ajarkan kepada murid-murid-Nya. Sama sekali bukan untuk dihafalkan, melainkan sebuah bagan yang point-pointnya sangat indah. Tiap-tiap kata, apalagi kalimat, mengandung makna yang sangat dalam. Misalnya, di dalam doa manusia, hal terpenting ialah posisinya dan posisi Sang Pencipta. Apa hubungannya dengan Sang Pencipta? Siapakah, atau dipanggil sebagai apakah Sang Pencipta itu?

Klausa 1: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu

Tuhan Yesus mengajar murid-muridNya memanggil Allah sebagai Bapa. Ia memberikan kepada mereka posisiNya sebagai Anak, dengan mengajar mereka memanggil Bapa. Yudaisme tidak biasa memanggil Allah sebagai Bapa, walaupun berkali-kali para nabi mengungkapkan kerinduan Allah menjadi Bapa mereka. Mereka banyak kali memanggil-Nya Yehovah, atau Elohim. Tetapi Yesus mengajar murid-muridNya memanggil Bapa, suatu hubungan yang sangat erat. Yesus membawa pengajaran baru, bahwa setiap orang yang menyambutNya sebagai Mesias berhak memanggil Allah sebagai Bapa. Pencipta langit dan bumi adalah Bapaku, itulah sebabnya aku menyampaikan isi hatiku kepadaNya.

Dikuduskanlah namamu

Kekudusan nama Bapa adalah keinginan yang luhur dari seorang anak. Tanggung jawab utama anak ialah menjaga nama baik Bapa. Dalam meminta apapun kepada Bapa, jangan melupakan tanggung jawab untuk menjaga kekudusan namaNya. Bahkan dalam keadaan apapaun, termasuk dalam penganiayaan, dalam kelaparan, nama baik Bapa harus dijaga. Jangan sampai ada yang menyangkal atau mencuri karena semua itu akan menghinakan nama Sang Bapa.

Klausa 2: Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga

Orang yang mengakui Yesus sebagai Mesias adalah orang yang merindukan Kerajaan Sorga. Terlebih lagi jika mereka dalam situasi penganiayaan, maka doa memohon kedatangan Kerajaan Sorga akan semakin dikumandangkan. Khotbah Yohanes Pembaptis adalah “bertobatlah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat.3:2). Demikian juga thema khotbah Tuhan Yesus, “bertobatlah dan percayalah sebab Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat.4:17; Mrk. 1:15). Orang-orang yang percaya kepada Tuhan adalah orang-orang yang penuh harap akan kedatangan Kerajaan Sorga.

Orang benar akan semakin terhimpit dan akan semakin menemui kesulitan terutama ketika orang jahat semakin berkuasa. Kalau orang baik lebih kuat dan berkuasa, damailah bumi, namun sebaliknya jika orang jahat lebih kuat dan bekuasa maka suramlah bumi. Setiap orang kudus di muka bumi pasti akan sangat merindukan kedatangan Kerajaan Sorga yang penuh damai, terutama menjelas berakhirnya zaman, sebab Alkitab menubuatkan semakin menjelang berakhirnya zaman, iblis semakin berkuasa dan berhasil menyesatkan banyak orang dan menjadi pengikutnya.

Klausa 3: Jadilah kehendakmu di bumi seperti di Sorga

Setiap orang yang telah diselamatkan, yang memiliki kepastian masuk Sorga, dan yang sangat merindukan suasana sorgawi, harus sering mengucapkan dan menghayati kata-kata tersebut dalam doa. Ketika Kerajaan Sorga turun, yaitu kehadiran Kerajaan Daud, maka saat itu di bumi akan seperti di Sorga. Pada saat itu Mesias, singa muda dari Yehuda, Putra Daud akan memerintah selama-lamanya. Berikut beberapa gambaran kehidupan saat di nasa kerajaan itu, benar-benar di bumi SEPERTI di Sorga:

Yesaya 11:6-10 (TB) Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya.
Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu.
Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.
Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.
Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia.

Yesaya 65:20-25 (TB) Di situ tidak akan ada lagi bayi yang hanya hidup beberapa hari atau orang tua yang tidak mencapai umur suntuk, sebab siapa yang mati pada umur seratus tahun masih akan dianggap muda, dan siapa yang tidak mencapai umur seratus tahun akan dianggap kena kutuk.
Mereka akan mendirikan rumah-rumah dan mendiaminya juga; mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan memakan buahnya juga.
Mereka tidak akan mendirikan sesuatu, supaya orang lain mendiaminya, dan mereka tidak akan menanam sesuatu, supaya orang lain memakan buahnya; sebab umur umat-Ku akan sepanjang umur pohon, dan orang-orang pilihan-Ku akan menikmati pekerjaan tangan mereka.
Mereka tidak akan bersusah-susah dengan percuma dan tidak akan melahirkan anak yang akan mati mendadak, sebab mereka itu keturunan orang-orang yang diberkati TUHAN, dan anak cucu mereka ada beserta mereka.
Maka sebelum mereka memanggil, Aku sudah menjawabnya; ketika mereka sedang berbicara, Aku sudah mendengarkannya.
Serigala dan anak domba akan bersama-sama makan rumput, singa akan makan jerami seperti lembu dan ular akan hidup dari debu. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di segenap gunung-Ku yang kudus,” firman TUHAN.

Klausa 4: Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

Jika mayoritas bangsa Yahudi menerima Yohanes sebagai Elia (Mat.11:14), yang berarti juga menerima Yesus sebagai Mesias, maka Kerajaan Romawi pasti akan memerangi mereka karena dengan meninggikan Mesias mereka akan dinilai memberontak terhadap Kaisar dan kerajaan. Pada tahun 70 AD pernah terjadi pemberontakan terhadap romawi, tetapi bukan dipimpin oleh Mesias. Jenderal Titus dari Roma datang mengepung kota Yerusalem sehingga penduduknya kelaparan berat. Sampai akhirnya Jendrak Titua membumihanguskan Yerusalem, terutama bait Allah porak poranda berkeping-keping.

Itulah sebabnya Sang Mesias dalam mengantisipasi pengikutnya yang jika mayoritas Yahudi menerimaNya maka mereka akan menghadapi kesusahan berat, berdoa untuk makanan yang dibutuhkan tiap-tiap hari.

Namun, jika hari ini, ada atau bahkan banyak orang Kristen yang telah memiliki makanan untuk berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, lalu asal bunyi, menghafalkan doa ini tanpa memahami maknanya. Alangkah bagusnya kalau kata “kami” diganti dengan “orang miskin” atau nama seseorang yang kita tahu ia susah, daripada mengucapkan doa asal bunyi tanpa makna.

Makanan adalah kebutuhan yang paling utama dari kehidupan manusia. Ketika Tuhan mengajarkan bagan doa ini kepada murid-muridNya, Ia sedang mengantisipasi mereka memasuki masa penganiayaan tujuh tahun menjelang kedatangan Kerajaan Sorga ke bumi.

Pada saat itu betul-betul makanan hari lepas hari sangat penting, bukan tabungan di bank. Sekali lagi bagan doa ini tidak dimaksudkan untuk upacara seremoial hari ini, melainkan sebuah pola doa.

Kapankah dalam doa seseorang ia meminta kebutuhan diriNya? Tentu setelah ia tahu jelas siapa dia dan siapa Sang Pencipta. Dan tentu setelah ia merindukan kedatangan Kerajaan Sorga dan senantiasa menjaga kekudusan nama Bapa.

Klausa 5: ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami

Tuhan Yesus pada Mat.18:21-35 dalam menjawab pertanyaan Petrus tentang berapa kali ia harus mengampuni saudara yang bersalah kepadanya, menceritakan sebuah perumpamaan tentang seseorang yang tidak mau menghapus hutang saudaranya padahal ia telah menerima penghapusan hutangnya dari raja. Ketika raja mendengar tindakan kejamnya terhadap saudaranya maka raja pun marah dan membatalkan pengampunannya.

Bukankah sejak kita bertobat dan percaya kepada Tuhan Yesus semua dosa kita telah diampuni? Benar! Lalu mengapakah kita diajar berdoa memohon ampun?

Hal yang perlu diperhatikan pertama ialah bahwa semua dosa kita ditanggung Tuhan Yesus sehingga di hadapan Allah Bapa kita adalah orang-orang kudus (1 Yoh. 2:2; Ibr. 2:7). Tetapi kita harus mengerti bahwa setiap kali kita jatuh ke dalam dosa, maka kita bersalah kepada Tuhan Yesus, Pribadi penanggung dosa kita. Oleh karena itu rasul Yohanes mengajarkan kepada orang yang sudah percaya untuk tetap,

“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yoh. 1:9).

Tentu maksudnya bukan untuk memperoleh keselamatan lagi, tetapi memperbaiki hubungan ketika orang percaya jatuh ke dalam dosa.

KEDUA, orang yang mendapat pengampunan Allah sepatutnya akan sangat rela mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Orang Kristen lahir baru bisa jatuh ke dalam dosa tetapi tidak memiliki sifat dosa. Membenci, mendendam adalah sifat dosa, bukan jatuh ke dalam dosa. Marah adalah tindakan dosa yang seketika (punctiliar), tetapi membenci atau mendendam bersifat terus menerus (linear). Itulah sebabnya dalam I Yoh.2:9,11, 3:15, 4:20 dikatakan bahwa orang yang membenci saudaranya tidak memiliki Allah. Dan kalau marah jangan sampai matahari terbenam karena itu akan berubah menjadi benci.

Selaras dengan perumpamaan yang dikatakan Tuhan kepada Petrus, Tuhan mengajar muridNya bahwa orang yang masih membenci saudaranya belum memiliki jaminan pengampunan Sang Raja. Atau sesungguhnya ia baru mendengar bahwa hutangnya telah diampuni namun belum memilikinya di dalam hatinya.

Tuhan mau ketika murid-muridNya berdoa terdapat ekspresi perubahan hati. Ketika seseorang dihapuskan hutangnya sebanyak sepuluh miliar, sepatutnya ia tidak menuntut saudaranya yang berhutang kepadanya hanya sepuluh juta karena pengampunan Sang Raja yang amat besar itu telah merubah hatinya. Tuhan mau dalam doa kita terdapat ekspresi sifat hati kita yang telah berubah. Setiap kali seorang murid berdoa, ia harus selalu ingat bahwa ia berbicara kepada Pribadi yang telah mengampuni semua dosanya dan ia harus juga telah mengampuni orang-orang yang bersalah kepadanya.

Klausa 6: janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat

Bukankah Yakobus berkata bahwa Allah tidak mencobai dan dicobai? (Yak.1:13). Benar sekali, Allah tidak memiliki keinginan daging, dan juga tidak memiliki ambisi, bahkan tidak memiliki pikiran jahat. Hanya pada pribadi-pribadi yang memiliki tendensi negatif tersebutlah yang bisa dicobai.

Dan Allah juga tidak mencobai karena Allah tidak memiliki keinginan menjatuhkan anak-anakNya. Pohon pengetahuan yang baik dan jahat di taman Eden hanya sebuah fasilitas bagi manusia yang diciptakan dengan kebebasan berpikir dan berkehendak bebas untuk mengimplementasikan kebebasannya dan membuktikan kesetiaannya. Untuk memahami kalimat tersebut di atas dengan baik, seseorang harus memahami bahwa doa ini untuk mengantisipasi masa kesusahan Yahudi (kepicikan) selama tujuh tahun. Kata “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” bisa diartikan “jangan membiarkan kami dicobai atau dianiaya”. Sebab anak kalimat berikutnya “lepaskanlah kami dari pada yang jahat” memberi penerangan tentang pencobaan yang dimaksudkan pada induk kalimatnya, ialah hal-hal yang jahat yang akan terjadi selama tujuh tahun kesusahan Yakub tersebut.

Artinya, Allah akan menjatuhkan hukuman atas dunia ini, dan karena hukumanNya termasuk bencana alam dan lain sebagainya, maka sulit bagi muridNya yang tinggal bersama-sama dengan orang jahat untuk dibedakan.

Kata “membawa kami” tidak perlu diartikan dengan tindakan seperti seorang membawa anaknya untuk disuntik dokter. Sama seperti kata Tuhan “jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku” (Luk.14:26). Ketika ada dua orang menuntut kita mengasihinya lebih dari yang lain, maka ketika kita memilih salah satu maka yang satunya biasanya menilai keputusan itu sebagai membencinya. Kata “membawa ke dalam pencobaan” bisa diartikan tidak menghindarkannya dari pencobaan atau membiarkannya dicobai.

Kita tahu bahwa ketika Tuhan menulahi Mesir Ia memang pernah membedakan kelompok Yahudi dari orang Mesir. Tetapi itu sangat tergantung pada jenis malapetakanya. Kalau gempa bumi, mungkin sulit untuk membedakan rumah anak Tuhan dan rumah orang jahat yang kebetulan letaknya bersebelahan. Lagi pula waktu di Mesir orang Yahudi tinggal di tempat yang terpisah dari orang Mesir (Orang Yahudi tinggal di tanah Gosyen).

Namun sekali lagi ini adalah bagan doa, dimana kini kita tahu bahwa dunia suatu hari pasti akan dihukum. Bahkan kita tahu Indonesia suatu hari akan (sedang?) dihukum atas dosa diskriminasi, dan dosa perkosaan, pembunuhan dll yang tidak pernah diusut dan diadili. Adalah tepat jika bagan doa yang Tuhan ajarkan terdapat point memohon agar Tuhan menghindarkan atau melepaskan kita dari cobaan kejahatan. Bahkan Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa, kalau bisa cawan penderitaan salib berlalu dariNya. Tetapi tetap kehendak Bapa yang diutamakan. Kita berdoa kiranya Bapa melepaskan kita dari pencobaan, namun jika karena hukuman yang harus dijatuhkan terhadap orang-orang disekitar kita yang efeknya akan merembes ke kita, maka kita meminta Bapa memberi kekuatan kepada kita untuk menanggungnya. Bahkan sekalipun kita tidak akan masuk ke dalam penganiayaan 7 tahun kelak karena kita telah diangkat (rapture – 1 Tes. 4:16-17) namun tetap boleh berdoa agar Tuhan menghindarkan kita dari yang jahat.

Klausa 7: Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin

Kalimat ini pada Critical Text tidak ditemukan oleh sebab itu Lembaga Alkitab Indonesia menempatkannya dalam kurung. Tetapi kalimat ini ada dalam Textus Receptus karena sesungguhnya ada pada naskah asli tulisan Matius. Kalimat doxology ini jelas ada karena terdapat di banyak manuskrip kuno. Dan kalau itu dihilangkan terkesan putus di tengah jalan, atau belum diakhiri. Secara logika kita tahu bahwa dalam pekerjaan penyalinan ulang, lebih besar kecenderungan mengurangi daripada menambahi. Untuk itu seharusnya LAI tidak menaruh tanda kurung pada kalimat tersebut.

Kalimat tersebut di atas merupakan cetusan sikap hati yang menyembah. Dan juga terkandung di dalamnya sikap hati yang pasrah kepada Tuhan setelah menaikan permohonan doa kepadaNya. Pengakuan bahwa Allahlah yang empunya kuasa merupakan pengakuan penyerahan kepada kehendakNya. Biarlah Tuhan yang empunya kuasa yang melaksanakan kehendakNya dengan segenap hikmat dan kuasaNya.

Jangan berdoa dengan sikap memaksa Tuhan. Atau menganggap Tuhan semacam kuasa gaib yang pasif, yang kalau kita memenuhi semua persyaratan yang ditetapkanNya, atau bahkan menyebut barang yang kita minta dengan detail maka akan mendapat. Ada yang berdoa dengan suara membentak-bentak, ada yang berdoa dengan sikap mengklaim Tuhan seperti mengklaim asuransi.

Baiklah kita berdoa dengan sikap hati menyembah, seperti anak berbicara kepada Bapa yang baik, yang penuh kasih. Contohlah pola doa yang Tuhan ajarkan kepada kita. Tentu kita boleh berdoa dengan pola kita sendiri. Tetapi yang sangat perlu diperhatikan ialah sikap hati kita. Berdoalah dengan hati, bukan dengan mulut yang asal bunyi, atau yang dihafalkan dalam prosesi upacara seremonial, karena bukan untuk itu Doa Bapa Kami ini Tuhan ajarkan. Ia mengajarkan sebuah pola doa, yang kalau kita mau berdoa kita bisa mengikuti bagan doa ini.

Dan tentu boleh dengan bebas memakai kata-kata kita sendiri. Amin. Artinya sungguh. _Setiap doa harus diucapkan dengan sungguh, bukan dengan asal bunyi atau sekedar hafalan seperti mantra.

Tuhan, datanglah segera, Maranatha!

Tinggalkan Balasan