Kasih karunia Allah Yang Sesungguhnya

Kasih karunia Allah Yang Sesungguhnya

1 Petrus 5:12 (TB) Dengan perantaraan Silwanus, yang kuanggap sebagai seorang saudara yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu, bahwa ini adalah kasih karunia yang *benar-benar dari Allah.* Berdirilah dengan teguh di dalamnya!

Titus 3:4-8

4 Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,
5 pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus,
6 yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita,
7 supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.
8 Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia.

Filipi 3:7-9

7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

Efesus 2:8-10

8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Pendahuluan

Alkitab adalah satu-satunya firman tertulis yang berasal dari Khalik langit dan bumi. Di dalam Alkitab kita bisa mendapatkan pengetahuan tentang Allah yang benar, tentang sifat-sifatNya.

Apakah Sang Pencipta itu seharusnya mahasuci? Ya, tentu. Hampir semua manusia mengakui. Pencipta yang mahasuci artinya TIDAK DAPAT dihampiri oleh makhluk berdosa meskipun dosanya sekecil apapun.

Apakah Sang Khalik mahaadil? Tentu. Pencipta Yang mahaadil menghendaki dosa diselesaikan dengan satu cara saja, yaitu PENGHUKUMAN. Siapapun yang telah bersalah/berdosa harus dihukum barulah kesalahan itu tuntas/terampuni.

Apakah Pencipta mahamurka? Tentu juga. Tidak akan ada namanya penghukuman, bila Dia tidak bisa murka. Seberapa murka? Mahamurka jawabannya. Oleh karena itu ada Neraka yang memang pada mulanya didesain untuk iblis (Mat. 25:41) namun juga bagi manusia yang lebih taat/percaya iblis daripada kepada Sang Khalik.

Apakah Pencipta Mahakasih? Ya, tentu saja. Mayoritas manusia bahkan semua manusia paling suka sifat Sang Khalik yang satu ini. Seberapa kasih? Sangat kasih dan tak terukur. Pribadi yang mahakasih adalah pribadi yang pasti memiliki kasih karunia (anugerah) yang betapa besar, tinggi, dan panjangnya.

Apakah Dia mahasempurna? Ya, tentu saja. Kesucian, keadilan, kemurkaan, dan kasih yang Dia miliki itu ukurannya sama besar dan tinggi, itulah kesempurnaanNya.

Apa dan bagaimanakah Allah (Sang Khalik) yang mahasuci, mahaadil, mahamurka, dan mahakasih itu? Bagaimana anugerah Allah yang sesungguhnya itu, yang sejalan dengan sifatNya yang mahasuci dan mahaadil?

1). Anugerah Allah yang sesungguhnya (the true Grace of God)

Ketika Adam dan Hawa (nenek moyang umat manusia – manusia pertama) diciptakan oleh Allah, mereka dalam keadaan kudus. Hati dan posisinya masih kudus.

Namun, satu hal yang tidak diberikan oleh Allah adalah karakter yang kudus (suci). Adam dan Hawa memiliki karakter karena mereka diciptakan dengan berkepribadian, yaitu memiliki kemampuan berpikir, menimbang, merasa, dan berkehendak sendiri. Karakter akan terbentuk dan teruji seiring waktu berlalu melalui suatu peristiwa.

Setelah sekian waktu, kita tahu kisah faktualnya dari Alkitab, mereka telah gagal membangun karakter yang kudus (suci), melainkan jatuh ke dalam dosa dengan melanggar perintah Allah. Mereka lebih percaya tipu muslihat si ular (iblis) dibanding perkataan Allah. Sejak saat itu, Allah tidak lagi dapat bersekutu bersama mereka karena sifat mahakudus-Nya.

Kabar Buruk Bagi Adam (Manusia)

Orang berdosa (walau setitik dosa) tidak dapat menghampiri Allah yang mahakudus dan tentu Sorga yang juga adalah tempat mahakudus. Bukan karena Allah tidak ingin “merangkul” manusia, melainkan karena sifat kudus tidak dapat bersatu dengan sesuatu yang najis (dosa), sebagaimana terang tidak dapat bersatu dengan gelap.

Benar kata Allah, mereka akan mati saat melanggar perintah Tuhan(dalam hal rohani), yaitu terputusnya hubungan dengan Sang sumber kehidupan.
Allah sesungguhnya sangat ingin manusia kembali bersamaNya ditempat yang kudus, yaitu Sorga tetapi Ia tidak bisa menyangkal diriNya yang mahakudus (2 Tim. 2:4, 13). Betapapun besar keinginan Allah, tetap tidak bisa jika manusia belum dikuduskan terlebih dahulu.

Hanya ada satu cara manusia dikuduskan yaitu melalui penghukuman atas dosa-dosa mereka (Rom.6:23), sebab Ia mahaadil. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa dosa tidak dapat diselesaikan dengan cara usaha manusia (misalnya beramal, rajin ibadah, berbuat baik dll).

Sesaleh-salehnya manusia, namun memiliki satu titik dosa saja, sudah seperti kain kotor yang amat buruk dimata Allah yang mahasuci (Yes. 64:6). Dan bagi Allah, melanggar satu hukum (perintah/kebaikan) sama dengan keseluruhan hukum:

Yakobus 2:10
Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, *ia bersalah terhadap seluruhnya*.

Sifat keadilan Allah sebenarnya dapat kita pahami dengan sederhana dalam realita kehidupan manusia di muka bumi. Ketika ada seorang terbukti melakukan tindak pelanggaran/kriminal (misal mencuri) maka yang bersangkutan didakwa dengan suatu hukuman tertentu yang setimpal (misal penjara, cambuk, denda, mati dll).

Dan tentu, kita tidak akan berpikir bahwa hukumannya dapat diganti dengan timpalan amal terdakwa sejumlah dana ke (misalnya) panti asuhan. Kita manusia yang terbatas, tahu apa itu keadilan, terlebih Tuhan Pencipta yang men-desain akal budi kita.

Sesungguhnya, sifat mahasuci dan mahaadil Allah adalah kabar sangat buruk untuk Adam, bahkan semua umat manusia. Sebab tidak ada seorang pun yang sempurna dan kudus, melainkan telah berbuat salah (Rom. 3:23).

Kabar Baik Bagi Adam (Manusia)

Puji Syukur, Ia bukan hanya mahakudus dan adil, namun juga mahakasih, sehingga ketika Adam (manusia) jatuh ke dalam dosa, Ia segera berjanji (Kej. 3:15) akan kirim Juruselamat yang akan dihukumkan bagi dosa-dosa mereka.

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa Allah tidak dapat menyangkal diri-Nya (2 Tim. 2:13), yaitu sifat-sifatNya. Allah yang mahakasih tidak serta merta menerima atau mengampuni dosa manusia begitu saja, kecuali dosa-dosa tersebut telah dijatuhi hukuman, untuk memenuhi sifat adil-Nya.

Oleh karena itu ketika Sang Juruselamat hendak menanggung dosa umat manusia, Ia harus menjalani penghukuman. Bahkan hukuman paling berat, yaitu kematian (Fil. 2:8).

*Sang Juruselamat Tiba*

Singkat cerita, akhirnya Sang Juruselamat yang dijanjikan, yaitu Sang Allah Anak, Yesus Kristus, tiba dan menerima hukuman atas dosa manusia:
2 Korintus 5:21 (TB) Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Keadilan Allah telah dipuaskan dan dilaksanakan dengan matinya Kristus sebagai manusia di kayu salib. Alkitab katakan bahwa kematian Kristus adalah untuk penghukuman dosa seisi dunia, artinya SEMUA umat manusia tanpa terkecuali:

1 Yohanes 2:2 (TB) Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk *dosa seluruh dunia*.

1 Timotius 4:10
Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, *Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya*.

Titus 3:4
Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,

Allah memberikan anugerah kepada umat manusia di dunia (1 Yoh. 2:2) yang telah berdosa, dengan diriNya sendiri, yaitu Pribadi Tuhan Yesus untuk menanggung dosa mereka.

Setiap manusia dapat diselamatkan (mendapat kepastian masuk Sorga) HANYA dengan menerima pengorbananNya melalui iman:

Efesus 2:8-9 (TB) Sebab karena kasih karunia kamu *diselamatkan oleh iman*; itu bukan hasil *usahamu*, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Dari perikop diatas ada dua hal: dari sisi Allah, Ia memberikan karunia kepada manusia dengan memberikan objek iman, yaitu Tuhan Yesus.

Dari sisi manusia yang berdosa ia harus beriman (bertobat dan percaya) kepada objek iman itu. Diselamatkan HANYA karena iman, bukan perbuatan (Tit. 3:5; Rom. 3:24). Iman bukanlah usaha manusia, melainkan sikap hati (respon) manusia untuk menerima anugerah Allah.

Jadi, begitu besar kasih Dia akan dunia ini (Yoh. 3:16) dengan menanggung konsekuensi dosa seluruh umat manusia. Namun, HANYA bermanfaat dan efektif bagi manusia yang menerima anugerahNya melalui iman. Bagi mereka yang tidak mau terima / tidak sudi dosanya ditanggung Tuhan Yesus, maka ia akan tetap menjadi prang berdosa dan akan mati dalam dosa, artinya menerima kobsekuensi hukuman dosa ketika nanti setelah mati di dunia dan berada di kehidupan kedua yang kekal (Yoh. 8:24).

*_Garansi_* Tuhan jika manusia beriman dengan benar sampai di akhir hidupnya dan tidak bergeser imannya maka ia PASTI akan diselamatkan dari murka Allah di Neraka (1 Kor. 15:2; Rom. 5:8-9, 10:10; Yoh. 3:16; 2 Yoh. 1:9; dll).

Mengapa Layak dan PASTI Masuk Sorga?

A. Karena seorang berdosa yang bertobat dan percaya kepadaNya dengan benar dan sungguh maka SELURUH dosanya (bukan item per item) telah terhitung dihukumkan di kayu salib dan saat itu juga ia dimeteraikan Roh Kudus, maka menjadi orang kudus (Ef. 1:1-2, 13). Jadi ia sudah dikuduskan, bukan karena perbuatannya melainkan karena posisinya yang berdosa telah digantikan (subtitusi) oleh Tuhan Yesus disalib dan posisi Tuhan Yesus yang Kudus telah ia miliki. Tentu orang yang berposisi sebagai orang Kudus layak masuk Sorga yang adalah tempat yang mahakudus.

B. Ketika seseorang beriman dengan benar maka ia akan memiliki otoritas/kedudukan sebagai anak Allah (Yoh. 1:12). Tentu, posisi sebagai ‘anak Allah’ layak masuk Sorga, yang adalah rumah Bapa.

Bagaimana jika orang percaya jatuh ke dalam dosa?

Ketika orang percaya masih hidup di dunia ini, ia masih mengenakan tubuh kedagingan dan dalam lingkup pengaruh unsur2 dunia yang semakin hebat. Tentu masih ada kemungkinan dan bisa jatuh ke dalam dosa, tetapi bukan HIDUP dalam dosa. Apa beda “jatuh” dalam dosa dengan “hidup” dalam dosa? Satu contoh kecil, orang yang sudah lahir baru hanya marah dan itu pun dengan alasan yang jelas dan berhenti sebelum matahari terbenam. Ia tidak boleh berlarut2 menyimpan amarahnya, karena akan jadi membenci. Rasa benci akan terus tersimpan, dan ini bukan lagi “jatuh” melainkan sudah “hidup” dalam dosa. Rasa benci/dendam, perzinahan/perselingkuhan, rencana pembunuhan, homoseksual, perhambaan terhadap judi, miras, dll dan sebagainya adalah bentuk-bentuk dosa yang ketika seseorang dilahirkan kembali, mesti segera bertekad dihilangkan atau ditinggalkan.

Roh kudus yang ada di dalam hatinya, akan menegur hatinya sehingga ia akan terus merasa bersaah. Akhirnya, dorongan itulah yang akan membuatnya berubah.

Selama jatuh ke dalam dosa yang sifatnya dosa moral (marah dll), maka akan tetap terhitung telah ditanggung Tuhan Yesus, dan bukan dosa yang mendatangkan maut (Thanatos – Neraka) – 1 Yoh. 5:16. Hanya ada satu dosa yang tidak akan diampuni bagi orang percaya, yaitu dosa secara doktrinal, dosa murtad atau meninggalkan iman yang benar (Ibr. 6;4-6, 10:25; Yoh. 15:6; 2 Yoh. 1:9; Ibr. 10:38). Inilah dosa yang mendatangkan maut (neraka) menurut Alkitab.

Lalu Apakah Berarti Seorang Kridten Percaya Bisa Bebas Berbuat Dosa Moral?

Tidak!

Rasul Paulus menjabarkan ini:

Roma 6:1-2, 6, 14-18 (TB) Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

Seorang percaya memang telah dibebaskan dari hukum taurat, tetapi bukan berarti tanpa hukum, melainkan berada dalam hukum kasih karunia. Ketika seseorang *bertobat* (di hadapan Allah mengaku diri orang berdosa dan menyesalinya) dan *percaya* (bahwa Tuhan Yesus telah dihukumkan bagi seluruh dosa saya dan saya setuju hidup bagu Tuhan) maka ia mendapat posisi yang kudus dan hati yang kudus.

2 hal inilah garansi dia ke Sorga. Tetapi yang belum didapat di dunia ini adalah karakter yang kudus. Karater yang kudus adalah pembentukan melalui proses waktu. Sebagai bukti ia sudah sungguh2 bertobat dan percaya, maka semestinya ia tidak akan berpikir atau berniat untuk semakin bebas berbuat dosa.

Orang percaya perlu membangun karakter yang semakin kudus, namun tetap INGAT, bahwa karakter yang kudus ini bukan SUPAYA masuk Sorga, melainkan orang percaya lakukan untuk:

a). Menjadi garam dan terang (Mat. 5:13-14) Allah ingin anak2Nya menjadi terang baik dalam ajaran yang benar maupun perilaku yang benar agar orang2 disekitarnya dapat ditarik kepada kebenaran dan bukan malah tersandung.

b). Allah meminta kita untuk semakin membangun karakter yang kudus (2 Kor. 7:1)

c). Sebagai bukti ia setuju hidup bagi Kristus (Fil. 1;21). Salah satu bukti eksternal hidup bagi Kristus adalah hidup yang semakin menjauhi dosa. Memang tidak akan mungkin sempurna, tetapi semakin ke arah hidup yang berkarakter kudus.

d). Ada upah dan kemuliaan yang menanti (2 Kor. 5:10; 1 Kor. 3:12-15; Rom. 8:18;). Alkitab menyatakan bahwa Sorga adalah tempat yang bertingkat2 (Mat. 5:19). Berarti nanti kemuliaan yang diterima tiap2 orang akan berbeda di Sorga. Ada yang dapat bonus dan ada yang gak dapat apa2 sekedar masuk Sorga (1 Kor. 3:14-15). Semua itu bergantung seberapa besar seorang percaya hidup bagi Tuhan di dunia ini.

*JADI*, perbuatan baik seorang yang sudah percaya adalah bukan untuk andil masuk Sorga, melainkan justru karena sudah pasti masuk Sorga dan mau hidup bersaksi bagi Kristus maka melakukan itu.

Jadi, seorang yang sungguh sudah lahir baru, mestinya kehidupan moralnya baik, dan terus bertekad makin baik walau kadang terjatuh. Tetapi perbuatan baik itu disadarinya bukan untuk andil masuk Sorga, melainkan karena Sudah pasti masuk Sorga dengan iman yang benar dan mau memuliakan Tuhan.

_The REAL GRACE of God_ adalah Dia menanggung seluruh dosa kita, dan kita harus menyambut karuniaNya dengan sikap hati kita, serta siap dan bertekad HIDUP bagi-Nya di dunia.

2). Salah Pengertian Tentang Anugerah Allah: Hyper grace dan lower grace

Meskipun Alkitab sudah begitu terang benderang menyatakan tentang kasih karunia Allah, namun pada faktanya masih banyak orang (terutama Kristen) yang men-salah artikan kasih karunia-Nya.

Ada kelempok yang bisa kita sebut kelompok _Hyper Grace_ karena kebabalasan atau overdosis terhadap kasih karunia Allah.

Jangan salah, kasih karunia Dia memang BEGITU LUAS, PANJANG, LEBAR, dan TINGGINYA. Namun, jangan memanfaatkan anugerah itu untuk kesempatan bagi kita BEBAS dan tanpa beban untuk semakin berbuat dosa.

Kelompok Hyper grace berpengertian:

karena kita telah ditebus dari segala dosa oleh Tuhan Yesus dan pasti masuk Sorga maka tidak masalah sama sekali kita hidup dalam dosa.

Mereka melihat, tidak masalah melakukan dosa ini, bertindak dosa itu, dan sebagainya, YANG PENTING tidak mempengaruhi keselamatan.

Mereka persis berpikiran seperti jemaat Roma yang ditegur oleh rasul Paulus (Roma 6).

Mereka tetap berpakaian tidak pantas (wanita you can see, bahkan dipakai ketika datang ke gereja), tetap suka pesta pora yang dengan unsur-unsur keduniawian seperti minuman keras, rokok dll, tetap suka dan tidak merasa bersalah melakukan hal2 dosa moral lainnya.

Padahal jika mereka merenungkan arti kata *bertobat* seharusnya mereka sadar dan tahu bahwa mereka sudah menyesal. Seorang yang menyesal telah melakukan kesalahan mestinya sungkan bahkan berpikir ulang kali kalau mau melakukannya lagi.

Akhirnya, mereka menjadi seorang Kristen yang HANYA ngaku bertobat tapi hidup tanpa pertobatan. Mengenai kelompok ini, ada dua kemungkinan:

A). Jika memang mereka sudah bertobat dan percaya sungguh2 namun belum membuktikan bukti eksternal maka sebagaimama yang Yakobus katakan, iman mereka seperti baterei yang belum di cas, atau mati (Yak. 2:26). Mereka terus mendudakan Roh Kudus yang telah dimeteraikan dalam hati mereka (Ef. 4:30).

B). Kemungkinan kedua dan fatal bahkan sangat mungkin banyak didapati diantara mereka, yaitu bahwa mereka tidak SUNGGUH-SUNGGUH hati bertobat dan percaya Yesus, hanya keluar dari mulut tidak dari hatinya. Ini sungguh berbahaya bagi jiwa mereka.

Mereka sangat suka dengan ayat Alkitab berikut:

Efesus 3:18
Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,

1 Yohanes 3:1
Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

Namun mereka lupa bahwa Alkitab juga menuntut orang yang sudah menerima anugerahNya untuk:

Roma 6:1-2, 12-13, 15
1 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?
2 Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?
12 Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.
13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.
15 Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak!

Filipi 1:21 Karena bagiku *hidup adalah Kristus* dan mati adalah keuntungan.

_Lower Grace_ seperti bandul yang bergerak 180 derajat dari _hyper grace_. Mereka pun kebablasan tidak sampai dititik keseimbangan kebenaran.

Mereka berkeyakinan:

Masuk Sorga TIDAK HANYA dengan iman (bertobat dan percaya) yang benar kepada Juruselamat, melainkan perlu *ditambah* dengan hidup yang sempurna atau perbuatan baik.

Jika tidak BERHASIL hidup sempurna, maka tidak jadi ke Sorga walau sudah beriman dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah seperti kelompok yang TERSANDUNG melihat konsep dan perilaku yang digaungkan oleh kelompok Hyper grace.

Alkitab adalah firman dari Allah yang mahabenar, sehingga isinya pastilah tidak saling bertentangan melainkan saling melengkapi. Ketika di satu ayat Alkitab mengatakan seorang berdosa diselamatkan HANYA melalui iman dan bukan usaha (perbuatan) baiknya, sementara di satu tempat lain _seolah2_ berkata perlu perbuatan baik untuk masuk Sorga, maka kita perlu menerima semua ayat dan meng-harmoniskannya, bukan malah HANYA suka atau mau terima satu ayat dan menolak ayat lainnya. Misalnya ketika kita membaca ayat seperti berikut:

Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang *melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.*

*Janganlah* terburu-buru menyimpulkan bahwa perlu melakukan SEMUA kehendak bapa tanpa cacat BARU bisa masuk Sorga. Jika demikian maka tidak akan ada yang masuk Sorga sebab tidak ada seorang pun yang terbukti melakukan SELURUH kehendak Bapa dengan sempurna.

Sekali lagi, Alkitab yang menafsir dirinya sendiri bukan kita. Mengenai kehendak bapa dijelaskan oleh rasul Yohanes sebagai:

Yohanes 6:29 Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan *yang dikehendaki Allah*, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”

*jadi* kita dapatkan kehendak bapa supaya seorang dapat masuk Sorga yang dimasud tidak lain adalah IMAN PERCAYA kepada Yesus dengan benar.

Demikian juga dengan ayat:

Matius 5:48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Bukan berarti harus hidup sempurna baru bisa masuk Sorga.

Kita baca ayat itu dengan konteks ayat-ayat sebelumnya:

Matius 5:27-48
27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah.
28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka.
30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
31 Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya.
32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
33 Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.
34 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah,
35 maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar;
36 janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun.
37 Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.
38 Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi.
39 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
40 Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu.
41 Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.
42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.
43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.
45 Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.
46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?
47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?
48 Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

Berdasarkan konteks perikopnya, Tuhan sebenarnya sedang membandingkan apa yabg mereka (audience – orang Israel) terima saat masa Perjanjian Lama tentang berbagai hukum seperti : jangan berzinah, mata ganti mata, dll.

Tuhan Yesus datang dengan mereformasi hukun yang lama menjadi hukum yang baru, yang LEBIH SEMPURNA.

Mereka (bahkan kita) mau lebih sempurna? Lakukan hukum baru (P.B.) hasil dari penyempurnaan atau progresifitas dari hukum yang lama (P.L.), inilah maksud Tuhan Yesus bahwa kita harus “Sempurna”.

Sekali lagi, ini berbicara tentang melakukan perintah/hukum yang baru, yang Tuhan Yesus revisi atau sempurnakan dari hukumNya yang lama.

Titus 3:8:

8 Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh *berusaha melakukan pekerjaan yang baik.* Itulah yang baik dan berguna bagi manusia.

Ayat diatas seringkali disalhartikan juga oleh mereka. Bahwa kita harus terus berusaha berbuat baik!

Ini BENAR dan SANGAT benar! Hanya masalahnya, berbuat baik SETELAH diselamatkan, itu untuk masuk Sorga atau untuk hal lain?

Dibagian akhir ayat diperjelas, tujuannya adalah bukan untuk masuk Sorga (karena sudah pasti masuk Sorga dengan iman) tetapi perbuatan baik orang percaya itu berguna bagi kehidupan manusia:

*_Itulah yang baik dan berguna bagi MANUSIA._*

*Penutup*

Semoga dengan penjelasan singkat ini, dapat dipahami oleh semua pihak. Dan tidak ada lagi pihak (orang Kristen) yang salah memahami tentang Anugerah Allah, melainkan memahami kasih karunia Allah yang sesungguhnya, yang Alkitabiah.

Tuhan Yesus Kristus, Sang Khalik, memimpin dalam kebenaranNya,

Maranatha !

Tinggalkan Balasan