Ucapan Berbahagia (Makarios)

Ucapan Berbahagia (Makarios)

Matius 5:1-6
1 Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
2 Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
3 “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Pendahuluan

Injil Matius berdasarkan namanya, ditulis oleh rasul Matius. Injil ini menekankan bahwa Tuhan Yesus adalah Raja. Sebagaimana kita tahu, dalam Alkitab terdapat 4 catatan tentang Tuhan Yesus. Masing-masing memiliki penekanan dan ciri khas yang berbeda, namun saling melengkapi.

Lukas menekankan Sang Khalik yang sedang menjadi manusia, sebagai seorang manusia seutuhnya. Markus menggambarkan Yesus Kristus sebagai hamba, yang harus mati untük menanggung dosa manusia. Terakhir, Yohanes menggambarkan Dia sebagai Sang Khalik, atau Allah yang benar, hidup, kekal dan satu dengan Bapa bersama Roh Kudus.

Para Theolog Kristen Liberal, menerapkan teori bahwa dari ke-4 Injil, yg paling duluan ditulis dan merupakan sumbernya adalah Injil Markus, sementara ketiga Injil lain ditulis belajangan hanya meng-copy dari Markus.

Jelas ini salah. Mustahil Matius dan Yohanes yg adalah saksi mata langsung dan termasuk dalam 12 rasul meng-copy dokumen Markus yg bahkan bukan rasul dan saksi mata langsung.

Yang benar adalah masing-masing tulisan diinspirasikan oleh Roh Kudus (2 Tim. 3:16-17) dengan penekanan dan karakteristik berbeda yang saling melengkapi.

Ucapan bahagia yang rasul Matius catat ini, Tuhan sampaikan ketika berada dibukit. Seringkali orang menyebutnya: Kotbah di Bukit.

Ada catatan lain dalam Lukas 6:17 dst. Yang agak mirip. Sebagian Theolog berpandangan ini satu peristiwa dan hanya dicatat dengan dua sisi berbeda dan saling melengkapi. Misalnya, di Matius dikatakan lokasinya diatas bukit, sementara Lukas di tempat datar. Mereka mengatakan dua info ini saling melengkapi yaitu di bukit namun Yesus berada di tempat yang datar.

Sebagian Theolog lain mengatakan ini dua peristiwa yang berbeda, hanya isi pesan/kotbah/ajaran Tuhan hampir sama, dan Ia mengulanginya.

Kelihatannya, ini memang dua peristiwa berbeda dan Tuhan sengaja mengulang pengajaran-Nya dalam kesempatan berbeda. Ini mengajarkan kepada kita bahwa Ia sering mengulang pengajaranNya kepada audience. Mengapa? Karena hal yang SANGAT BENAR, PENTING DAN BERGUNA, perlu diulang agar audience sungguh-sungguh mengerti bahkan selalu ingat.

Kebenaran harus selalu digaungkan dan diulang terus, tidak boleh berhenti meskipun timbul reaksi yang tidak positif atau apa yang diharapkan kepada audience tidak terjadi.

Saat mengajar, Tuhan berposisi duduk. Sangat mungkin karena Ia ingin ambil waktu yang cukup lama.

Ayat 3: Miskin di hadapan Allah

Ucapan Berbahagia ini, yang dalam bahasa Yunaninya : Makarios (Terberkatilah) justru mengandung hal-hal yang dunia ingin jauhi atau yang bertentangan dengan konsep dunia.

Hari ini dibagian pertama dari ucapan bahagia, kita akan lihat 4 hal atau kondisi seseorang yang menurut Tuhan adalah berbahagia atau terberkati (Blessed / Makarios).

“Berbahagia” dişini bukanlah suatu kondisi perasaan senang (happy), tetapi kondisi “terberkati” dan dalam pandangan Allah. Artinya, sungguh-sungguh terberkati atau bahagia, bukan gambaran bahagia semu yang dunia tawarkan atau gaungkan atau konsepkan.

Orang-orang yang TERBERKATI adalah orang-orang yang sudah ditebus dosa-dosanya, diselamatkan.

Bagaimana supaya menjadi orang-orang yang diselamatkan, ağar menjadi bahagia atau diberkati meskipun kondisinya bağı dunia justru tidak bahagia? Pembahasan berikut ini akan menjawabnya.

Penekanan Kata “Miskin” dişini adalah Miskin dalam roh (poor in spirit), bukan kondisi miskin materi, jasmani dan duniawi. Bukan miskin dompetnya, rekening banknya, dll.

Walaupun dapat kıta pahami berdasarkan 1 Kor pasal 1 bahwa mayoritas orang yang percaya/menerima Yesus bukanlah orang yang kaya, melainkan miskin secara finansial/materi. Tapi tentu tidak semua.

Masuk sorga atau tidak, mendapatkan Tuhan atau tidak, sama sekali tidak ada hubungan dengan keadaan manusia secara materi, jasmani, duniawi.

Kemudian, kata “miskin” dişini memakai kata “Ptokos” yang bisa diartikan melarat, sangat miskin sehingga tidak memiliki apapun dan perlu mengemis, mengharapkan bantuan pihak lain untuk dapat hidup.

Kata Yunani lain untuk miskin adalah “Penes”. Walau miskin, namun madih memiliki sesuatu, walau sangat terbatas dan serba kurang.

Untuk memahami perbedaan kata ini, sangat baik kıta perhatikan perikop berikut:

Lukas 21:2-4
2 Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.
3 Lalu Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.
4 Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”

Kata “miskin” diayat 2 memakai kata “Penes” sebab janda ıtü miskin namun masih memiliki sesuatu yaitu uang dua peser (zaman sekarang mungkin 2 ribu perak). Tetapi di ayat 3 nya, kata miskin memakai kata “Ptokos” sebab setelah janda ıtü memberi uangnya ıtü, sekarang ia tidak memiliki apa-apa lagi.

Demikianlah gamabaran “miskin” yang Tuhan katakan dalam perikop kıta.

“Miskin dalam roh” berarti secara rohani dia merasa miskin, tidak memiliki apa-apa atau modal untuk ditunjukkan atau dibanggakan kepada Tuhan.

Langkah pertama untuk diselamatkan atau menjadi orabg yang akan diberkati/berbahagia oleh Sang Khalik adalah menyadari terlebih dahulu kondisinya yang begitu bobrok dihadapan-Nya.

Jika melihat fakta, semua manusia, sesungguhnya amat melarat secara rohani dihadapan Allah. Tidak ada satu kebaikan manusia pun yang berharga dihadapan Allah yang mahasuci kalau ia pernah melakukan satu kesalahan saja.

Manusia begitu Miskin, compang-camping, melarat, dihadapan Tuhan.

Walau demikian keadaannya, banyak manusia yang tak menyadari hal ini. Justru mereka merasa hebat akan dirinya, merasa diri baik dan layak menuju Sorga atau merasa sudah berkenan kepada Allah dengan bermodalkan “kebaikan”nya di dunia ini.

Orang yang demikian tidak akan bisa ditolong atau diselamatkan Allah darı dosa-dosanya.

Sebaliknya, seorang yang melihat kondisinya begitu melarat, dan perlu bantuan secara rohani darı Allah, dia akan menjadi orang uang terberkati.

Kıta bandingkan kondisi.ini dengan apa yang Alkitab catat tentang orang Farisi dan pemungut cukai dalam Lukas 18:9-14.

Orang Farisi ıtü merasa secara rohani sudah cukup (banyak berbuat baik, amal, dll), dan membanggakan untuk masuk Sorga dengan kebaikannya, tanpa sedikitpun merasa diri orang berdosa. Dia sedang mengandalkan apa yang dia miliki untuk memperoleh perkenan Allah.

Kita bandingkan lagi sekarang dengn kondisi dalam jemaat, di kitab wahyu pasal 3:17, Tuhan menegur dengan keras Jemaat laodikia, karena ternyata disana penuh dengan orang-orang yang belum diselamatkan. Kök bisa sudah jadi jemaat namun belum diselamatkan menurut Tuhan?

Ini faktor pengajaran kondisi yang bersangkutan. Tuhan menegur jemaat ıtü karena mereka merasa “kaya dan tidak kekurangan, padahal sesungguhnya dihadapan Allah mereka melarat (Ptokos)”.

Status sebagai jemaat suatu gereja lokal sama sekali tidak menjamin orang ıtü diselamatkan. Perlu diselidiki bagaimana dan apa imannya? Apa yang dia pahami dan percayai, inilah doktrin (pengajaran). Setelah, seberapa jauh ia meyakini pengajaran ıtü? Apakah sekedar dimulut dan tidak sampai ke hati?

Jemaat Laodikia, tidak merasa diri perlu Juruslamat untuk menebus dosa mereka dan melakukan transaksi Rohani kepada-Nya.

Bagaimana seharusnya ağar seorang Kristen sungguh-sungguh diselamatkan?

Setiap manusia dapat diselamatkan (mendapat kepastian masuk Sorga) HANYA dengan menerima pengorbananNya melalui iman:

Efesus 2:8-9 (TB) Sebab karena kasih karunia kamu *diselamatkan oleh iman*; itu bukan hasil *usahamu*, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Dari perikop diatas ada dua hal: dari sisi Allah, Ia memberikan karunia kepada manusia dengan memberikan objek iman, yaitu Tuhan Yesus.

Dari sisi manusia yang berdosa ia harus beriman (bertobat dan percaya) kepada objek iman itu. Diselamatkan HANYA karena iman, bukan perbuatan (Tit. 3:5; Rom. 3:24). Iman bukanlah usaha manusia, melainkan sikap hati (respon) manusia untuk menerima anugerah Allah.

Jadi, begitu besar kasih Dia akan dunia ini (Yoh. 3:16) dengan menanggung konsekuensi dosa seluruh umat manusia. Namun, HANYA bermanfaat dan efektif bagi manusia yang menerima anugerahNya melalui iman. Bagi mereka yang tidak mau terima / tidak sudi dosanya ditanggung Tuhan Yesus, maka ia akan tetap menjadi prang berdosa dan akan mati dalam dosa, artinya menerima kobsekuensi hukuman dosa ketika nanti setelah mati di dunia dan berada di kehidupan kedua yang kekal (Yoh. 8:24).

Garansi Tuhan jika manusia beriman dengan benar sampai di akhir hidupnya dan tidak bergeser imannya maka ia PASTI akan diselamatkan dari murka Allah di Neraka (1 Kor. 15:2; Rom. 5:8-9, 10:10; Yoh. 3:16; 2 Yoh. 1:9; dll).

Saya harap pembaca sekalian telah membaca artikel saya sebelumnya tentang “The Real Grace of God”. Jika belum anda dpat membacanya untuk mendapatkan penjelasan yang lebih dalam.

Apa yang ditampilkan oleh Jemaat Laodikia, orang Farisi yang sombong, dimasa sekarang sesungguhnya tidak hilang, malah makin diperjelas.

Para pakar dunia modern ini, mereka merasa persoalan yang ada adalah karena manusia kurang “self acting”. Merrka terus menggaungkan prinsip “do what you want to do and feel happy” untuk menyelesaikan segala masalah. Segaka sesuatunya serba “self”, inilah inti “ke-egoan”.

Hal ini berbanding terbalik dalam pandangan Allah. Justru akar segala masalah yang timbul adalah karena keadaan diri sendiri yang memberontak dan menyombong dihadapan-Nya.

Untuk menjadi seorang yang “terberkati”, seseorang harus merasa miskin secara rohani, barulah ia akan merasa perlu Juruselamat untuk menyelamatkannya dari konsekuensi hukuman dosa di api neraka dan darı kuasa dosa yang mengikatnya di dunia.

Ayat 4: Berdukacita

Ini jelas sangat kontraduksi bağı pandangan dunia. Bagaimana mungkin berbahagia padahal sedang dukacita? Dunia tidak memahami mengapa bisa bahagia padahal berdukacita?

Sekali lagi, penekanan “bahagia” dişini bukanlah ukuran perasaan hati (happy, enjoy, fun, dll). Tetapi adalah kondisi yang sebenarnya bahagia dihadapan Tuhan, meskipun secara fakta dunia tidak demikian.

Untuk membantu memahami lebih jelas kıta bisa melihat firman Tuhan di P.L. Daud pernah menulis bahwa orang yang berbahagia adalah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fadi, düdük dalam kumpulan pencemooh, dan berdiri di jalan orang berdosa (Mzm. 1:1-2)

Kata berbahagia di Mazmur tersebut persis sama padanannya dengan “Makarios” dalam bahasa Yunani.

Jelas bahwa bahagia dişini bukan sesuatu yang seru2, happy2, fun dll.

Lebih jauh lagi, penukis kitab pengkotbah, yaitu Salomo (anak Daud) bahkan pernah menyatakan “lebih baik pergi ke rumah duka daripada ke tempat pesta.”

Ada apa ini? Mengapa sesuatu yang semestinya berduka malah berbahagia?
Dukacita seperti apa yang Tuhan maksudkan jika demikian? Paulus memberi poin penjelasnya dalam

2 Korintus 7:9-10

9 namun sekarang aku bersukacita, bukan karena kamu telah berdukacita, melainkan karena dukacitamu membuat kamu bertobat. Sebab dukacitamu itu adalah menurut kehendak Allah, sehingga kamu sedikit pun tidak dirugikan oleh karena kami.
10 Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.

Dukacita yang berdasarkan atau menurut kehendak Allah. Apa ıtü? Manusia perlu berdukacita ataş dosanya. Ini sejlan dengan ungkapan pertama, yang mana ia merasa melarat dan perlu pertolongan dari Allah untuk menyelamatkan dosanya.

Dibagian ini lebih ditekankan lagi, bahwa ia merasa sangat sedit, berduka akan kondisinya yang begitu najis dan berdosa dihadapan-Nya, Yang Mahasuci.

Dukacita yang sesuai kehendak Allah ini akan menghasilkan buah PERTOBATAN.

Konteks sürat Koribtus yang pertama adalah Paulus sangat marah kepada jemaat korintus, karena dosa mereka dalam Jemaat maupun diluar jemaat. Bahkan Paulus sampai menyatakan kelakuannya lebih parah dari orang dunia, yang tidak kenal Tuhan dengan benar.

Paulus menegaskan dan meminta pemimpin saat ıtü dan jemaat lainnya bertindak dengan cara mengusir mereka, karena akan mencemarkan nama Jemaat Tuhan.

Disaat ıtü, jemaat Korintus berdukacita. Mereka akhirnya menyadari akan maslah ıtü dan melakukan perintah Paulus.

Setelah ıtü, dalam 2 Korintus, ketika Paulus tahu bahwa sudah ada buah penyesalan dan pertobatan darı para pelaki yabg ditindak tegas, kemudian Tuhan hibur mereka dengan menyatakan bahwa “mereka harus diterima kembali bila sudah sungguh-sungguh menyesal dan bertobat”.

Dukacita karena kehendak Allah ialah bergumul melawan dosa.

Setelah seseorang diselamatkan, ia perlu tahu bahwa selabjutnya yang telah berkomitmen untuk hidup bağı Tuhan. Tanda pertama yang timbul darı hati seorang yang telah lahirbaru adalah hidup yang semakin membenci dan menjauhi dosa. Apakah iea bisa jatuh kembali? Bisa. Namun, ia perlu berdukacita akan hal ıtü, bukan alah merasa biasa apalagi happy. Dia perlu bangkit kembali dan bergumul dalam Tuhan, meminta pertolongan dn kekuatan Tuhan untuk melawan godaan (dosa).

Ada banyak orang yang berpikiran bahwa “Tuhan saya dengar Tuhan punya program masuk sorga, saya mau terima. Tapi saya tidak siap hidup bağı Tuhan, saya masih senang dosa saya, tidak mau tinggalkan.”

Sungguh salah, dan bukan seorang yang sungguh-sungguh bertobat.

Ia seharusnya berpikir “Tuhan saya tahu ini menjijikan, ini dosa yang saya benci, namun saya aal kembali, saya jatuh, saya mau menang atas dosa, saya perlu engkau, selamatkan saya dari kungkungan dosa ini, Tuhan”.

Seorang yang sudah diselamatkan sungguh-sungguh, seharusnya berpikir bukan hanya perlu diselamatkan dari api Neraka, tapi juga dari dosa kuasa dosa.

Inilah dukacita yang berasal darı Tuhan, menghasilkan buah pertobatan dan hidup yang semakin berkenan kepadaNya.

Sebaliknya, kata Paulus, dukacita karena dunia menghasilkan kematian. Apa maksudnya? Orang dunia yang berduka adalah karena sesuatu ıtü telah hilang atau tiada, kematian. Mereka akan berdukacita, yaiti terhadap hal yabg mereka masih harapkan di dunia, namun tanpa bisa dicegah hal ıtü menghilang atau tiada atau mati.

Hal ini tergambar dlam wahyu pasal 18, dimana ada respon yang berbeda menanggapi dari kehancuran dari babel kelak.

Dimana orang-orang di pihak Tuhan bersukacita ataş kehancuran babel, sebaliknya orang dunia berdukacita, karena apa yang mereka andalkan dan harapkan telah tiada.

Zaman kini adlaah generasi yang berfokus kepada have fun, entertaintment, hiburan kesenangan. Mulai dari film (tontonan), maupun lainnya semua dipenuhi unsur-unsur demikian.

Seharusnya, hidup ini dipenuhi dengan fokus untuk mengejar kebenaran Tuhan, bukan kesenangan.

Tetapi tidak, orang yang melakukan demikian akan mengalami suatu “penganiayaan” darı dunia sekitar:

2 Timotius 3:12
Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,

Kata “Ibadah” disitu adalah “Godliness” yang lebih tepat diartikan “Kesalehan”. Orang yang sungguh-sungguh ingin hidup saleh dihadapan Tuhan, kan mengalami hal yang diskriminatif, aniaya, dan sebagainya.

Dalam segala lini kehidupan ıtü alan terjadi. Pekerjaan, sekolah, rumah tangga, masyarakat, dan lainnya.

Kalau kita mau berjalan jujur, dalam bisnis, kerjaan, kita malah akan dijauhi, akan diremehkan dan akan dipandang tidak mendapat keuntungan.

Ayat 5: Lemah Lembut, Memiliki Bumi

Dunia berkata: kalau mau sukses harus garang, menonjol diri, bicara keras, dan sebagainya.

Tetapi Tuhan menganggap mereka yang lemah lembut, akan memilki bumi.

Apa ıtü lemah lembut? Apakah ıtü berarti LEMAH GEMULAI?

Dalam bahasa Inggrisnya disebut “Meek”. Ini bukanlah “weak”. Lemah lembut juga tidak berarti orang yang tak pernah marah, tidak tegas, mengalah terhadap ketidakadilan atau ketidakbenaran.

Lemah lembut berqda diantara seorang yang tempramen, tak terkendali dan seorang yang tak berdaya, lemah, tidak pernah marah / takut marah.

Kıta lihat contoh lebih jauh darı tokoh di Alkitab.

Bilangan 12:3 Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi.

Numbers 12:3 (Now the man Moses was very meek, above all the men which were upon the face of the earth.)

Siapakah menurut Alkitab seorang yang paling lemah lembut? Dialah Musa. Tapi dalam kisah hidupnya kıta tahu dia bukan seorang lemah. Dia seorang yang berani menantang Firaun (pada waktu ıtü Super power di dunia). Dia seorang yang berani, berjiwa pemmpin, tangguh, kuat.

Lebih hebat darı Musa, yaitu Yang menciptakan Musa, Tuhan Yesus sendiri juga menyatakan bahwa Ia lemah lembut.

Matius 11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Matthew 11:29 Take my yoke upon you, and learn of me; for I am meek and lowly in heart: and ye shall find rest unto your souls.

Kata “Lemah lembut” dişini sama persis dengan perikop kıta. Dia sangat lemah lembut dan Dia tidak lemat, melainkan Pribadi paling Kuat ataş siapapun dan apapun.

Dr. Steven E. Liauw mendefinisikan “Kelemah lembutan” adalah kekuatan yang terkendali dengan lembut.

Seorang yang bengis, beringas, kejam adalah orang yang lupa ada otoritas diatasnya.

Orang yang lemah lembut sebaliknya, meskipin memiliki otoritas kekuasaan, tetapi mengendalikan itu dengan kehendak Allah dan lembut.

Dalam dunia ini, Tuhan memberi kekuatatan kepada “para tuan, orangtua, laki-laki dan sebagainya” adalah untuk dipakai sesuai kehendak Tuhan. Mereka harus sadar suatu hari Dia akan bertanggung jawab kepada Tuhan ataş otoritas yang disalah-gunakan dan tidak sesuai kehendak Tuhan.

Seorang yang diselamatkan, pastilah seorang yang lemah lembuh. Dan sesuai janji Tuhan, bahwa ia akan memiliki bumi, yaitu bumi yang baru, yaitu kerajaan Sorga.

Ayat 6: Lapar dan Haus Akan Kebenaran

Tuhan sengaja menggambarkan ini dengan istilah “lapar dan haus”. Karena kalau sudah dalam kondisi lapar dan haus, orang akan lakukan apapun untuk melepas dahaganya.

Tetapi di dunia ini, ada yang lapar dan haus akan kekuasaan, kekayaan, kesenagnan, kenikmatan. Yang Tuhan mau, manusia lapar dan haus akan kebenaran.

Kata “kebenaran” dişini adalah dikaiosune (Righteousness).

Satu kata lain dalam bahasa Yunani untuk “kebenaran” adalah Aletheia (Truth).

“Dikaiosune” penekanan / fokusnya adalah bagaimana menjadi benar. Orang ıtü sedemikian rupa mengejar supaya dirinya menjadi benar.

Aletheia (truth) penekanannya adalah apa yang saya percaya ıtü adalah benar.

Tentu kedua kata ini sangat berhubungan. Kalau yang kita percaya ıtü adalah benar, maka kıta akan menjadi benar. Sebaliknya apa yang kıta percayai ternyata salah atau sesat, maka tidak akan mungkin bisa menjadi orang yang benar.

Bagaimana bisa menjadi benar?

Ini berhubungan dengan dukacita dan miskin karena dosa, dia ingin benar dihadapan Allah sehingga memerlukan pertolongan Allah. Dia akan mengejar doktrin (pengajaran) yang benar, agar menjadi benar. Banyak orang yang berpikir kebenaran gak penting, gak bikin kenyang, dan sebagainya.

Barangsiapa tidak mengejar (haus dan lapar) akan kebenaran, yaitu hal-hal yang benar (ajaran yang benar), yang Alkitabiah, mka ia akan ditangkap oleh kesesatan.

2 Tesalonika 2:9-12

9 Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu,
10 dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka.
11 Dan itulah sebabnya Allah mendatangkan kesesatan atas mereka, yang menyebabkan mereka percaya akan dusta,
12 supaya dihukum semua orang yang tidak percaya akan kebenaran dan yang suka kejahatan.

Pada perikop diatas, Tuhan memperingati, supaya orang mengasihi kebenaran. Mengasihi atau mencintai kebenaran inilah sana dengan mengejar (haus dan lapar) akan kebenaran.

Ada banyak hal yg sesungguhnya sudah jelas-jelas sangat salah, tetapi tidak segera ditentang, sikap manusia demikian di mata Tuhan tentu dilihat tidak cinta kebenaran.

Misalnya, Ada orang bernubuat, padahal sudah sangat jelas bahwa Tuhan tidak turunkan wahyu lagi. Tuhan Yesua tidak lahir di bulan desmber, wajah-Nya bukan seperti yang di kalender, lukisan dan lainnya.

Ketika hati seseorang tidak mengejar kebenaran, dia tidak dituntun Tuhan kepada kebenaran berikutnya, dan ia akan segera disambar iblis dan dituntun menuju ke posisi yang semakin salah.

Rom 1:24 Karena itu *Allah menyerahkanmereka* kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka.

Allah akan menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka dan akhirnya percaya akan DUSTA.

Sesungguhnya banyak orang Kristen sudah tahu bahwa Kristus tidak lahir pada 25 desember. Lalu ketika ditanyakan, mengapa anda tetap merayakan momen tersebut dan masih mengumumkan bahwa ıtü hari kelahiran-Nya. Biasanya mereka beralasan ıtü SUDAH diterima dunia, jangan aneh sendiri, nanri orang pandang kıta aneh, dan sebagainya.

Sesungguhnya seseorang harus mengikuti kebenaran yang sudah menyolok dan menentang kesalahan yang juga sangat menyolok, MAKA SELANJUTNYA Tuhan akan menuntunnya kepada kebenaran demi kebenaran.

Tetapi jika terhadap kebenaran yang sudah sangat menyolok saja dia tidak berani bersikap, Tuhan sudah sangat kecewa kepadanya. Bagaimana mungkin Tuhan menuntunnya pada kebenaran yang berikut lagi?

Mengapa di dunia ada orang yang sampai menyembah tikus? Karena mereka mau, dan karena mereka tidak mencari yang benar, maka Tuhan MENYERAHKAN mereka pada keinginan hati mereka.

Jika kita persempit hanya fokus dalam kekristenan, mengapa bisa muncul banyak Kristen yang salah pengajarannya? Jawabannya sama, karena mereka tidak mencari yang benar. Mereka ingin memuaskan hati saja, maka Tuhan menyerahkan mereka kepada keinginan mereka.

Memang ada banyak tafsiran. Dan dari tafsiran yang begitu banyak itu tentu HANYA SATU tafsiran yang benar. Dan itu pasti yang didapatkan oleh org-org yang mencari dan mencintai kebenaran.

Alkitab SATU2NYA Firman Tuhan, ini adalah fondasi kekristenan yang paling logis dan paling benar. Hanya orang Kristen yang kerasukan setan yang bisa menentang konsep ALKITAB SATU-SATUNYA FIRMAN TUHAN. Sebab jika Alkitab bukan satu2nya Firman Tuhan, maka mustahil Yesus bisa satu-satunya Juruselamat. Ini barang yang sudah satu paket.

Kalau di luar Alkitab masih ada firman Tuhan maka bisa jadi di luar Yesus masih ada Juruselamat.

Kalau nalar yang sangat sederhana ini saja mentok tak bisa dimengerti, sangat mungkin akal budi orang tersebut sudah tersumbat.

Kalau percaya Alkitab satu-satunya Firman Tuhan, maka nalar yang selaras dengan itu ialah pewahyuan hanya sampai kitab Wahyu saja. Nalar logis Lanjutan nya ialah tidak ada lagi proses pewahyuan. Maka ıtü tidak ada lagi bahasa lidah, nubuat, mimpi, penglihatan dn sebagainya yang masih berasal dari Tuhan

Dan inilah sebabnya Kata Paulus apabila yang sempurna tiba maka nubuatan, bahasa lidah dan karunia pengetahuan selesai, karena Alkitab adalah wahyu tertulis yang sempurna, dan telah tiba. (1Kor.13:8-10).

Tetapi ada sekelompok orang Kristen bukan mencari kebenaran, maka Tuhan MENYERAHKAN mereka pada keinginan hati mereka, seolah membiarkan mereka dipimpin iblis.

Tentu ada yang bertanya, apa standard kebenaran? Apakah sesuai ajaran kamu saja?

Kebenaran adalah hal-hal yang benar, yang seturut dengan ajaran yang sehat (1 Tim. 4:6, 6:4), yang berasal dari Tuhan Yesus dan seluruh kesimpulan firmanNya (Yoh. 14:6, 17:17 – Alkitab).

Pembaca dapat membaca artikel sebelumnya mengenai “waspada terhadap kamuflase antikristus di zaman akhir” untuk mendapatkan penjelasan yang lebih jelas dan detil.

Tuhan Yesus Kristus, Sang Khalik kiranya menuntun anda untuk semakin mengasihi kebenaranNya. Maranatha!

Tinggalkan Balasan