Akibat Satu Pelanggaran Dan Satu Perbuatan Kebenaran

Akibat Satu Pelanggaran Dan Satu Perbuatan Kebenaran

Roma 5:12, 15, 18-19, 21 (TB)
Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
Tetapi karunia Allah tidaklah sama dengan pelanggaran Adam. Sebab, jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh di dalam kuasa maut, jauh lebih besar lagi kasih karunia Allah dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus.
Sebab itu, sama seperti oleh satu pelanggaran semua orang beroleh penghukuman, demikian pula oleh satu perbuatan kebenaran semua orang beroleh pembenaran untuk hidup.
Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.
supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.

#BagaimanaOrangP.L.MasukSorga?
#ApakahAdaKeselamatanDiluarYesusKristus?
#BayiMeninggalMasukSorga?
#ApakahImanOrangTuaMempengaruhiNasibAnak?
#BaptisanBayi?
#BagaimanaNasibOrangYangTidakPernahDengarInjil?

Pendahuluan

Ketika Adam dan Hawa (nenek moyang umat manusia) diciptakan oleh Allah, mereka dalam keadaan kudus. Hati dan posisinya masih kudus. Namun, satu hal yang tidak diberikan oleh Allah adalah karakter yang kudus. Adam dan Hawa memiliki karakter karena mereka diciptakan dengan berkepribadian, yaitu memiliki kemampuan berpikir, menimbang, merasa, dan berkehendak sendiri. Karakter akan terbentuk dan teruji seiring waktu berlalu melalui suatu peristiwa.

Setelah sekian waktu, kita tahu kisahnya, mereka telah gagal membangun karakter yang kudus, melainkan jatuh ke dalam dosa dengan melanggar perintah Allah. Mereka lebih percaya tipu muslihat si ular (iblis) dibanding perkataan Allah. Sejak saat itu, Allah tidak lagi dapat bersekutu bersama mereka karena sifat mahakudus-Nya.

Kabar Buruk Bagi Adam

Orang berdosa (walau setitik dosa) tidak dapat menghampiri Allah yang mahakudus dan tentu Sorga yang juga adalah tempat mahakudus. Bukan karena Allah tidak ingin “merangkul” manusia, melainkan karena sifat kudus tidak dapat bersatu dengan sesuatu yang najis (dosa), sebagaimana terang tidak dapat bersatu dengan gelap.

Benar kata Allah, mereka akan mati saat melanggar perintah Tuhan(dalam hal rohani), yaitu terputusnya hubungan dengan Sang sumber kehidupan.
Allah sesungguhnya sangat ingin manusia kembali bersamaNya ditempat yang kudus, yaitu Sorga tetapi Ia tidak bisa menyangkal diriNya yang mahakudus (2 Tim. 2:4, 13). Betapapun besar keinginan Allah, tetap tidak bisa jika manusia belum dikuduskan terlebih dahulu.

Hanya ada satu cara manusia dikuduskan yaitu melalui penghukuman atas dosa-dosa mereka (Rom.6:23), sebab Ia mahaadil. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa dosa tidak dapat diselesaikan dengan cara usaha manusia (misalnya beramal, rajin ibadah, berbuat baik dll).

Sesaleh-salehnya manusia, namun memiliki satu titik dosa saja, susah seperti kain kotor yang amat buruk dimata Allah yang mahasuci (Yes. 64:6). Dan bagi Allah, melanggar satu hukum (perintah/kebaikan) sama dengan keseluruhan hukum:

Yakobus 2:10
Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, *ia bersalah terhadap seluruhnya*.

Sifat keadilan Allah sebenarnya dapat kita pahami dengan sederhana dalam realita kehidupan manusia di muka bumi. Ketika ada seorang terbukti melakukan tindak pelanggaran/kriminal (misal mencuri) maka yang bersangkutan didakwa dengan suatu hukuman tertentu yang setimpal (misal penjara, cambuk, denda, mati dll).

Dan tentu, kita tidak akan berpikir bahwa hukumannya dapat diganti dengan timpalan amal terdakwa sejumlah dana ke (misalnya) panti asuhan. Kita manusia yang terbatas, tahu apa itu keadilan, terlebih Tuhan Pencipta yang men-desain akal budi kita.

Sesungguhnya, sifat mahasuci dan mahaadil Allah adalah kabar sangat buruk untuk Adam, bahkan semua umat manusia. Sebab tidak ada seorang pun yang sempurna dan kudus, melainkan telah berbuat salah (Rom. 3:23).

Kabar Baik Bagi Adam (Manusia)

Puji Syukur, Ia bukan hanya mahakudus dan adil, namun juga mahakasih, sehingga ketika Adam (manusia) jatuh ke dalam dosa, Ia segera berjanji (Kej. 3:15) akan kirim Juruselamat yang akan dihukumkan bagi dosa-dosa mereka.

Sebagaimana telah kita ketahui, bahwa Allah tidak dapat menyangkal diri-Nya (2 Tim. 2:13), yaitu sifat-sifatNya. Allah yang mahakasih tidak serta merta menerima atau mengampuni dosa manusia, kecuali dosa-dosa tersebut telah dijatuhi hukuman, untuk memenuhi sifat adil-Nya.

Oleh karena itu ketika Sang Juruselamat hendak menanggung dosa umat manusia, Ia harus menjalani penghukuman. Bahkan hukuman paling berat, yaitu mati (Fil. 2:8).

Sang Juruselamat Tiba

Singkat cerita, akhirnya Sang Juruselamat yang dijanjikan, yaitu Sang Allah Anak, Yesus Kristus, tiba dan menerima hukuman atas dosa manusia:
2 Korintus 5:21 (TB) Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

Keadilan Allah telah dipuaskan dan dilaksanakan dengan matinya Kristus sebagai manusia di kayu salib. Alkitab katakan bahwa kematian Kristus adalah untuk penghukuman dosa seisi dunia, artinya semua umat manusia.

1 Yohanes 2:2 (TB) Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk *dosa seluruh dunia*.

1 Timotius 4:10
Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, *Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya*.

Titus 3:4
Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia,

Akibat Hubungan Dengan Adam

Setiap umat manusia yang lahir di dunia ini adalah keturunan biologis Adam. Roma 5:12-21 memberitahu kita bahwa kejatuhan Adam dalam dosa telah mengantar kita (yang adalah keturunan Adam) menjadi berdosa juga.

_Jangan salah_, ini *bukan dosa keturunan/warisan*, melainkan secara posisional. Setiap individu yang terlahir di dunia secara posisi adalah orang berdosa akibat hubungan dengan Adam.

Masih di Roma 5:12-21, kita dapatkan juga bahwa karena tindakan kebenaran Tuhan Yesus (yaitu menanggung dosa manusia di kayu salib), semua umat manusia memperoleh pembenaran.

Apa artinya?

Setiap dosa yang diakibatkan oleh Adam *secara posisi* telah selesai atau lunas oleh penyaliban Tuhan Yesus.

Konsekuensi / Dampak Penyelesaian Dosa Oleh Yesus Kristus

Karena dosa yang disebabkan oleh Adam telah diselesaikan oleh Yesus Kristus, maka kita simpulkan bahwa:
1. Bayi
2. Orang yang lahir cacat mental atau tidak memiliki kesadaran diri
Jika mereka mati (meninggal) maka secara otomatis *pasti* masuk Sorga.

Jadi bayi dan setiap yang lahir tanpa kesadaran diri atau orang-orang yang belum berdosa secara sadar diri tetapi menempati posisi sebagai orang berdosa, telah menjadi orang benar karena Yesus Kristus.

Dasar Alkitab Bahwa Bayi Meninggal Masuk Sorga

Di dalam kitab Raja-raja diceritakan tentang Yerobeam, seorang raja Israel yang sangat jahat di mata Tuhan. Ia yang mengajak bangsa Israel menyembah patung yang didirikan di Bethel. Tuhan berkata bahwa anaknya yang belum akil balik itu saja yang ada kebaikan di mata Tuhan:
1 Raja-raja 14:12-13 (TB) Tetapi bangunlah dan pulang ke rumahmu. Pada saat kakimu melangkah masuk kota, anak itu akan mati.
Seluruh Israel akan meratapi dia dan menguburkan dia, sebab hanya dialah dari pada keluarga Yerobeam yang akan mendapat kubur, sebab di antara keluarga Yerobeam hanya padanyalah terdapat sesuatu yang baik di mata TUHAN, Allah Israel.

Kata “anak” dalam ayat 12 bahasa aslinya (Ibrani) adalah ‘Yeled’, yang dalam KJV diterjemahkan ‘child’, yaitu anak kecil yang belum akil balik.

Dalam PB, Tuhan Yesus juga mengindikadikan hal yang sama. Ia pernah berkata:

Matius 19:14
Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Kata “anak” disitu dalam bahasa aslinya (Yunani) adalah “Paidion”, yang dalam KJV diterjemahkan “little children”.
Bayi dan orang yang lahir cacat mental adalah dua individu yang sama kondisi, yaitu sama-sama belum memiliki kesadaran diri.

Berdasarkan Alkitab, kita dapatkan mereka pasti masuk Sorga ketika meninggal, terlepas siapapun orang tuanya.

Berbagai Konsep Yang Salah Tentang Nasib Bayi

Sebagian pemimpin gereja menjadi bingung tentang nasib bayi yang mati dengan mengajarkan bahwa bayi yang meninggal ditentukan iman orang tuanya. Jika orang tuanya adalah orang Kristen maka akan masuk Sorga, sedangkan bayi yang orang tuanya non-Kristen akan masuk Neraka, tanpa menyertakan dasar ayat Alkitab maupun nalar berpikir sehatnya.

Pengajaran yang tanpa bukti Alkitab dan berpikir logis tentu menyesatkan dan berbahaya. Coba bayangkan realita berikut:
kalau seorang bayi yang ayahnya Kristen sedangkan ibunya non-Kristen, atau sebaliknya ibunya Kristen dan ayahnya non-Kristen, apakah ia masuk Sorga? Kemudian bagaimana kalau ada sepasang suami‐istri yang ketika belum menjadi Kristen kematian bayi, dan dua tahun kemudian menjadi Kristen juga kematian bayinya yang kedua, apakah bayi yang pertama masuk Neraka dan bayi kedua masuk Sorga? Tidak masuk akal dan tidak ada dasar ayat Alkitab.

Ada juga kelompok Kristen yang sangat menyimpang, mengajarkan untuk menginjili bayi, bahkan yang masih dalan kandungan. Mungkinkah bayi di bawah lima tahun (balita), mendengarkan Injil dan mengerti Injil? Tidak mungkin! Apalagi bayi dalam kandungan.
Pengajaran yang menyimpang model ini beberapa memakai peristiwa Elizabeth yang mengandung janin Yohanes Pembaptis yang melonjak ketika menerima salam dari Maria (Luk. 1:41) sebagai pembenaran bahwa janin dalam kandungan bisa mendengarkan Injil.

Padahal untuk memiliki iman yang menyelamatkan tentu tidak cukup dengan melonjak, melainkan harus mengerti bahwa dirinya orang berdosa yang akan dihukumkan dan Kristus menggantikan dirinya dihukumkan di kayu salib. Sekali lagi tidak cukup dengan hanya melonjak.

Kekristenan seringkali menjadi bahan tertawaan para ilmuwan adalah karena terlalu banyak pemimpin gereja yang mengajarkan hal yang diluar nalar berpikir sehat dan juga menyimpang dari kebenaran Alkutab. Jangankan janin dalam kandungan, bahkan balita menurut ilmu psikologi, belum bisa mengerti kebenaran abstrak. Ia belum bisa membayangkan dosa yang akan dihukum dan memahami Yesus yang menggantikannya dihukumkan di kayu salib. Ia belum bisa membayangkan angka lebih dari sepuluh (jumlah jarinya).

Mustahil balita bisa mengerti Injil, apalagi janin dalam kandungan. Pemimpin gereja yang mengajarkan bahwa janin perlu diinjili telah berusaha menyimpangkan pengikutnya yang tidak berusaha berpikir dengan jernih. Karena tidak jelas tentang Doktrin Keselamatan yang alkitabiah, namun tidak bisa menghindari topik ini, akhirnya mengajar dengan kemampuan berpikirnya yang mungkin kebetulan saat itu nalarnya kurang bekerja.

Dengan tegas saya ingin katakan bahwa tindakan menginjili janin dalam kandungan adalah tidak alkitabiah, atau menyimpang.
Penyimpangan berikutnya adalah

Praktik “pembaptisan” bayi

Dengan banyak sekali alasan praktik “baptisan” bayi sungguh menyimpang. Tidak ada kebenaran apapun untuk praktik “pembaptisan” bayi:

1. Ada yang berargumen ini untuk keselamatan jiwanya jika seandainya meninggal saat bayi karena masih ada dosa keturunan dari Adam.
Jelas, ini ketidakpahaman akan Alkitab dan tidak bernalar jernih. Bagaimana mungkin Allah menghukum individu yang belum memiliki kesadaran diri untuk berdosa?!

2. Ada yang berargumen ini untuk menghindari sakit penyakit dan gangguan kuasa gelap (gaib).

Jelas, ini bukan kekristenan, tetapi perdukunan yang penuh hal-hal mistik/
takhyul. Menghindari sakit bukan dengan baptisan, tetapi imunisasi. Tidak ada kebenaran pembaptisan untuk tujuan demikian dalam Alkitab.

3. Ada yang berargumen, bayi dibaptis adalah untuk menyimbolkan praktik “sunat” dalam PL.

Jelas, ini juga keliru. Baptisan tidak ada hubungan dengan “sunat” di PL. Tujuan baptisan adalah untuk bukti/tanda sudah bertobat (Mat. 3:11; KPR 19:4), dan siap menjadi murid untuk diajar segala sesuatu dalam Jemaat Tuhan (Mat. 28:19-20).

Sama sekali tidak cocok/pantas untuk bayi. Lagipula, sunat dalam PL hanya untuk bayi laki-laki, sedangkan praktiknya mereka menerapkan semua anak. Terlalu memaksa karena tidak ada dasar Alkitab dan logis, maka terlihat cukup aneh.

Sekali lagi, Yesus Kristus disalibkan untuk menanggung dosa seisi dunia (Yoh.1:29), untuk dosa semua manusia (Ibr.2:9, I Yoh.2:2). Artinya dosa dari Adam hingga dosa manusia terakhir ditanggungkan kepada diri Tuhan Yesus untuk dihukumkan di atas kayu salib.

Jadi semua dosa yang disebabkan oleh kejatuhan Adam telah terselesaikan pada penyaliban Yesus Kristus. Tidak ada orang yang masuk Neraka karena Adam dan Hawa lagi. Semua orang masuk Neraka karena perbuatan dosa dirinya sendiri.

Itulah sebabnya bayi yang belum bisa berbuat dosa atas kesadaran dirinya, dan mereka yang tidak pernah mendapatkan kesadaran diri misalnya lahir cacat mental, kalau mati mereka pasti masuk Sorga, biar anak siapa pun, bahkan anak seorang teroris Sekali lagi, tidak ada orang yang masuk ke Neraka karena perbuatan orang lain, ayah-ibunya atau Adam dan Hawa.

*Kita Yang Mencapai Umur Akil Balik*

Sesudah seorang bayi bertumbuh mencapai umur akil balik, atau bertanggung jawab, atau memiliki kesadaran diri, dan melakukan dosa, maka ia menjadi orang berdosa bukan karena Adam dan Hawa, bukan karena ayah-ibunya, *melainkan ia menjadi orang berdosa oleh karena dirinya sendiri*.

Lalu, kapankah seseorang menjadi akil balik? Tidak ada umur atau waktu yang persis karena tiap-tiap orang berbeda. Ada pengaruh kecerdasan tiap-tiap orang. Pada zaman ibadah simbolik PL, secara simbolik Allah menetapkan umur 12 tahun, karena sesudah seorang anak laki-laki berusia di atas 12 tahun baru wajib pergi ke Bait Allah.

Orang yang telah akil balik, telah sadar diri, melakukan dosa, harus mendengarkan Injil agar dosa-dosanya diselesaikan. Ia harus bertobat (segenap hati dihadapan Tuhan mengaku diri orang berdosa dan menyesalinya) dan percaya kepada Yesus Kristus bahwa Dia telah dihukumkan atas semua dosanya.

Ia harus mendengarkan Injil yang murni, bukan Injil yang ditambahi dan yang dikurangi.
Tidak ada seorangpun yang dapat masuk Sorga tanpa melalui beriman kepada Sang Juruselamat, Tuhan Yesus Kristus (Yoh. 14:6; KPR 4:12). Sebab hanya melalui Tuhan Yesus dosa manusia terhitung dihukumkan dan menjadi manusia kudus dihadapan Allah, karena telah dimeteraikan Roh Kudus (Ef. 1:1-2, 13).

Baik orang-orang di PL (Adam, Nuh, Musa dll) maupun di PB. Bedanya, orang-orang PL bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat yang akan datang. Orang-orang di PB (termasuk kita) bertobat dan percaya kepada Juruselamat yang sudah datang.

Bagaimana Nasib Orang Yang Belum Pernah Dengar Tentang Yesus?

Banyak orang mempertanyakan tentang nasib orang yang tinggal di dalam hutan. Dan tentu, bukan yang di hutan, ada banyak negara yang melarang pemberitaan Injil, yang kondisinya bisa lebih parah daripada tinggal di hutan. Mereka seringkali menuntut ada pengecualian kepada mereka.
Banyak pengkotbah dan pengajar Alkitab yang berusaha menjawab masalah ini, namun seringkali menyimpang dari prinsip-prinsip Allah dalam firmanNya.

Misalnya, ada yang ‘simple’ menjawab, mereka yang seumur hidup tidak pernah dengar Yesus, akan dihakimi berdasarkan perbuatannya. Kalau perbuatan baiknya (misal amal, ibadah, dll) lebih banyak dari dosa (kejahatan) nya maka akan ke Sorga, demikian sebaliknya bila lebih sedikit.

Jawaban ini tentu menyimpang baik dari kebenaran Alkitab maupun akal sehat. Pertama, jelas Alkitab menerapkan standar tunggal-absolut untuk keselamatan jiwa seseorang, yaitu harus dengan iman kepada Sang Juruselamat, bukan usaha manusia (Ef. 2:8-9; Tit. 3:5 dll).

Selain itu jawaban seperti diatas akan mengaburkan makna salib dan membuat kematian Tuhan Yesus menjadi sia-sia (Gal. 2:21). Jika manusia bisa diterima Allah dengan berbuat kebaikan yang banyak, maka sejak awal, tidak perlu Allah datang berinkarnasi dan mati disalib!

Kedua, selain menjadikan standar ganda, juga membuat kebenaran keselamatan menjadi relatif. Sedangkan Allah mengajarkan keselamatan yang mutlak-absolut dengan jaminan PASTI (Rom. 5:9-10), bukan mudah-mudahan. Lagipula tidak pernah ada informasi ukuran untuk mengukur besarnya dosa ataupun amal kebaikan.

Misalnya, mencuri ayam dosa 5 liter atau 5 kg dll, kemudian berbuat amal 5 ribu rupiah mendapat pahala 5 kg atau k liter dll. Tidak pernah ada standar seperti ini disampaikan dan diterapkan! Kalau tidak ada maka ini doktrin harapan kosong sia-sia!

Lalu, jika bukan demikian, bagaimana nasib mereka dan siapa yang harus bertanggung jawab jika mereka sampai tidak sempat mendengar Injil? Setelah menelusuri Alkitab dengan seksama dan berpikir logis, maka saya dapatkan bahwa standar Allah tetap sama, mereka tetap akan dihukum kekal di neraka.

Ya, Allah adalah konsisten dan tidak berubah.
Mengenai nasib mereka sampai tidak pernah mendengar Injil dapat kita simpulkan ke dalam 4 (empat) pihak:

1. Orang tua atau nenek moyang yang bersangkutan. Ini jelas, mengapa bisa sampai di hutan sehingga orang tidak bisa jangkau? Setiap pilihan memiliki konsekuensinya.

2. Lingkungan dimana yang bersangkutan lahir. Ada yang lahir di kota atau negara yang sangat melarang ada pemberitaan Injil. Tentu Allah akan menghukum pihak-pihak yang secara sengaja terlibat dengan hukuman lebih berat di Neraka.

3. Mereka yang percaya kepada Injil namun tidak giat menyebarluaskannya. Dalam Alkitab, kita tahu Tuhan sangat urgensi dan kuat memberi perintah kepada murid-muridNya (orang-orang yabg telah menerima Dia) untuk memberitakan Injil, bahkan dengan bahasa kepada “segala makhluk” (Mrk. 16:15-16). Rasul Paulus menekankan hal yang sama, bahwa supaya seseorabg dapat mendengar Injil maka perlu ada yang berusaha menyampaikannya:

Roma 10:14-15, 17 (TB) Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?
Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”
Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Jika kita umpakan dosa sebagai vitus, maka Injil adalah antivirusnya. Perlu ada yang berani membawa antivirus ini ke plosok hutan agar virus yang mewabah manusia disana dapat diselamatkan. Demikian juga dengan usaha “penyelundupan” ke negara-negara atau kota-kota yang melarang masuk antivirus. Saat ini antivirus lebih mudah diakses, dengan adanya internet.

Tetapi walau demikian, banyak antivirus palsu bertebaran (sebagaimama pembahasan kita diatas mengenai beberapa pengajaran yang menyimpang), maka perlu sanhat berhati-hati.

4. Faktor diri sendiri yang bersangkutan. Kalau sampai seorang yang (misalnya) animisme di hutan dan seunur hidup tidak mendapat Injil yang benar, maka sangat mungkin yang bersabgkutan tidak begitu cinta akan kebenaran dan berusaha mencarinya.
Tuhan pernah berjanji dalam:

Matius 7:7-8 (TB) “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.

Matius 5:6
Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.

Berdasarkan ayat diatas, Allah berjanji bahwa ketika manusia mencari jalan kebenaran dengan giat dan tulus (lapar dan haus) maka Tuhan akan mempertemukannya kepada kebenaran itu, yaitu Injil keselamatan yang benar (murni).

Allah telah memberikan wahyu umumNya kepada umat manusia secara universal yaitu alam semesta dan hati nurani. Melalui dua hal ini saja, manusia yang diberi akal budi akan menyimpulkan bahwa ada Sang Pencipta yang mahakuasa, Pribadi Yang Lebih Hebat dari manusia, bukan berupa benda atau barang mati.

Jika mereka mau mengikuti hati nurani dan penerangan akal budi mereka dan mencariNya, maka Ia akan menuntun mereka langkah demi langkah, titik terang demi titik terang, sampai mereka mengetahui sepenuhnya melalui wahyu khususNya yaitu firmanNya dan berita Injil. Jika mereka tidak peduli, kita tahu ini salah siapa dan bagaimana nasib akhir mereka.

Suatu waktu kelak akan nampak bahwa Allah telah berusaha menuntun dan menunjukkan titik terang kepada umat manusia, namun mereka menolak, sehingga tidak ada dalih mereka untuk tidak bersalah (Rom. 1:20).

Kesimpulan

Jadi, dapat kita pahami dengan jelas, bahwa karena hubungan dengan Adam, setiap manusia menjadi berdosa secara posisional. Namun, karena tindakan kebenaran oleh Tuhan Yesua Kristus, maka posisi tersebut telah berubah menjadi posiso orang benar. Hal ini menyangkut posisi bayi dan mereka yang meninggal dalam kondiai cacat mental atau belum ada kesadaran diri. Bagi mereka yang tidak meninggal saat bayi, baik orang-orang di PL maupun di PB dan telah berdosa bukan lahi karena posisi Adam melainkan karena kesalahan sendiri, perlu menyelesaikannya dengan bertobat dan percaya kepada Sang Juruselamat, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Tidak ada jalan lain menuju Bapa (di Sorga), selain melalui iman kepada Tuhan Yesus.
Kiranya kebenaran yang singkat ini dapat memberi masukan dan pencerahan bagi kita semua. Segala pujian bagi Dia sampai selama-lamanya (Rom. 9:5), Yang adalah Juruselamat dan Allah yang kekal (1 Yoh. 5:20).
Maranatha!

Tinggalkan Balasan