Hal – Hal Tentang Baptisan

Hal - Hal Tentang Baptisan

Kisah Para Rasul 19:1-5

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid.

Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.”

Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.”

Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.”

Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.

Pendahuluan

Baptisan adalah topik yang sudah banyak dibahas. Namun demikian tentu tidak ada larangan untuk membahasnya lagi terutama karena topik ini membawa pengaruh yang sangat besar. Karena kelompok tertentu mengaitkan baptisan dengan hal-hal mistik misalnya untuk kesembuhan, bebas psakit-penyakit, bebas gangguan kuasa gelap, dll, serta yang paling fatal dihubungkan dengan keselamatan.

Tema Baptisan juga telah menimbulkan berbagai diskusi atau perdebatan, diantaranya: Apakah Baptisan mempengaruhi keselamatan jiwa seseorang? Bagaimanakah Syarat Baptisan Yang Sah Menurut Alkitab? Apakah Bayi boleh “Dibaptis”? Apakah Harus Melaksanakan Praktik Pembaptisan Pada Masa Kini? Apakah Perlu DIbaptis Lebih Dari Satu Kali? Dan lain sebagainya.

Pada kesempatan ini, kita akan bersama-sama mempelajari Alkitab berkaitan dengan tema-tema Baptisan.

APAKAH BAPTISAN MENYELAMATKAN?

Jawaban terhadap pertanyaan di atas sangat mempengaruhi kondisi keselamatan seseorang termasuk juga kondisi gereja yang mengajarkannya. Sesungguhnya tidak ada satu ayat pun yang mendukung konsep dibutuhkannya baptisan dalam keselamatan jiwa kita. Jelas sekali bahwa kita diselamatkan dengan iman yang didahului atau bersamaan dengan pertobatan (Ef.2:8-9; Mrk. 1:15; Tit. 3:5).

Manusia berdosa tidak bisa pergi ke Sorga karena Allah selain mahakasih, Ia juga mahasuci, mahaadil dan mahamurka. Ia tidak dapat menyangkal diriNya, sebab itu tidak mungkin hanya karena salah satu sifatNya “kasih” lalu orang berdosa bisa menghampiri diriNya tanpa terhalangi oleh sifat lainnya yaitu mahasuci dan mahaadil. Itulah sebabnya satu-satunya jalan penyelesaian dosa manusia ialah melalui penghukuman (Rom. 6:23). Dan untuk itulah maksud kedatangan Yesus dan penyalibanNya di kayu salib. Penyaliban Kristus adalah penghukuman atas dosa seisi dunia.

Kita diselamatkan hanya melalui bertobat dan percaya bahwa penghukuman Yesus adalah penghukuman atas semua dosa kita. Yesus menggantikan saya dihukumkan atas semua dosa saya, dan kini saya hidup bagi-Nya.Tidak boleh ditambah dengan apapun.

Jika diperlukan baptisan untuk memastikan seseorang masuk Sorga, maka jasa seorang“pendeta” untuk memasukkan orang ke Sorga akan sangat besar. Dan akan banyak sekali orang yang berakhir di Neraka karena pendeta terlalu sibuk, atau ia bertobat hari Senin dan mati hari Sabtu sebelum sempat dibaptis pada hari Minggu. Jadi, pembaca bisa berpikir bahwa konsep dibutuhkan baptisan untuk masuk Sorga itu bukan hanya tidak alkitabiah bahkan tidak masuk akal.

Bagaimana dengan ayat-ayat berikut yang seolah menyatakan “Baptisan” memiliki andil dalam keselamatan:

Markus 16:16

Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

Kis 2:38

Jawab Petrus kepada mereka: “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus

Jawab:

Tidak ada masalah sama sekali dengan kedua ayat diatas. Keduanya sudah benar, hanya saja pemahaman kita yang perlu benar dalam mengartikannya. Silahkan perhatikan pada Mrk. 16:16 bagian b dikatakan “Siapa yang tidak PERCAYA akan dihukum” bukan “Siapa yang tidak DIBAPTIS”.

Ayat ini seringkali penulis buat permudah agar pembaca dapat memahaminya dengan kalimat berikut: “Siapa yang mandi dan berpakaian, ia akan BERSIH” atau “SIapa yang makan dan minum, ia akan KENYANG”. Perhatikan, yang membuat seseorang menjadi “Bersih” adalah proses mandinya. Sementara berpakaian adalah konsekuensi logis dari tindakan SESUDAH mandi, dan bukan ini essesni atau hakikat dari bersih. Demikian juga yang membuat seseorang menjadi “Kenyang” juga adalah proses makannya. Minum setelah makan adalah konsekuensi logisnya.

Demikian dengan baptisan, ini adalah konsekuensi atau tindakan seseorang setelah ia menjadi orang percaya atau lahir baru atau diselamatkan, bukan bagian dari syarat keselamatan.

Kemudian mengenai Kis. 2:38 ini juga sama sekali tidak mengindikasikan bahwa “baptisan” bagian dari syarat seseorang memperoleh pengampunan dosa. Ayat ini sebenarnya bila dilihat dari bahasa aslinya (Yunani) menjadi lebih jelas, namun karena agak rumit bagi pembaca yang belum pernah mengetahuinya, maka penulis akan memakai konteks ayat dan perikopnya.

Sebenarnya, maksud rasul Petrus bukan “baptisan” nya yang membuat seseorang memperoleh pengampunan dosa, melainkan “pertobatannya”, hal ini terungkap dalam pasal berikutnya, masih dalam konteks yang sama:

Kis. 3:19 Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan,

Jadi, jelaslah bagi kita bahwa kedua ayat diatas berbicara hal yang kurang lebih sama, yaitu bahwa Baptisan adalah langkah atau perintah Allah selanjutnya SETELAH seseorang bertobat dan percaya (Diselamatkan) bukan bagian dari syarat keselamatan itu sendiri

UNTUK APA DIBAPTIS?

Kalau baptisan tidak dibutuhkan untuk masuk Sorga, lalu mengapa kita membaptis orang?

Pertama, dibaptis atau pembaptisan adalah sebagai BUKTI atau TANDA seseorang telah bertobat (Mat. 3:11)

Kedua, dibaptis adalah untuk menjadi murid Tuhan atau bagian dalam keanggotaan Jemaat Allah yang benar (1 Tim. 3:15), yang adalah tubuh Tuhan (Ef. 1:23) untuk diajar segala firman Allah (Mat. 28:19-20).

Ketigaa, baptisan adalah salah satu dari dua upacara simbolik yang diperintahkan kepada Jemaat Perjanjian Baru. Yang pertama adalah Baptisan dan yang kedua adalah Perjamuan Tuhan. Posisi kedua upacara simbolik tersebut sama dengan upacara simbolik Perjanjian Lama. Bedanya hanya, upacara simbolik PL menunjuk ke depan dan upacara simbolik PB menunjuk ke belakang. Upacara simbolik PL yang menunjuk ke depan telah selesai tugasnya sejak yang ditunjuk tiba. Kini fungsinya digantikan dengan upacara simbolik PB yang sifatnya menunjuk ke belakang. Penyembelihan domba berfungsi mengingatkan akan Juruselamat yang sedang dijanjikan. Sedangkan Baptisan berfungsi mengingatkan akan Juruselamat yang telah dihukumkan.

Jadi, kelompok yang tidak membaptis (misalnya: Quaker, Hyper-dispensationalisme, dll.) telah melakukan kesalahan yang sangat besar. Tindakan mereka sama persis dengan tindakan orang PL yang tidak mempersembahkan domba bakaran. Korban domba adalah upacara simbolik PL yang Allah perintahkan demi mengingat pada janji Allah untuk mengirim Juruselamat. Sedangkan baptisan adalah upacara simbolik yang Allah perintahkan kepada jemaat PB untuk mengingat pada Juruselamat yang telah mati, dikuburkan, dan bangkit dari kematian. Jadi, korban domba dan pembaptisan adalah upacara yang sebanding.

Gereja yang mengajarkan bahwa baptisan telah ditiadakan bisa dilihat sebagai gereja yang telah salah menafsirkan perintah Tuhan, atau lebih buruk daripada itu, telah dihasut untuk menyimpang dari kebenaran, yaitu tidak melakukan upacara simbolik yang sangat penting yang dikhususkan untuk mengingat pada peristiwa penyelamatan yang sangat agung itu. Jemaat PB yang meniadakan baptisan itu sama seperti orang di zaman PL yang meniadakan korban domba.

Setiap kali mereka yang di zaman PL lalai dalam mempersembahkan korban domba, Tuhan marah sekali kepada mereka. Karena jika kelalaian itu diteruskan, maka setelah melalui perjalanan waktu yang panjang, janji pengiriman Juruselamat akan perlahan-lahan terlupakan. Biasanya sebelum iblis menyerang titik sasaran, ia akan berputar-putar dulu di pinggiran sasaran. Jadi, sebelum menyimpangkan inti doktrin keselamatan, iblis menghasut agar upacara yang menggambarkan proses penyelamatan ditiadakan sehingga ketepatan doktrin keselamatan dapat pelan-pelan digesernya. Dengan kata lain, sebelum menyerang orangnya, fotonya diturunkan dulu.

Jangan melihat sepele kesalahan gereja yang meniadakan acara pembaptisan. Pada zaman PL, yaitu pada zaman Nuh, manusia meniadakan upacara korban domba, dan hasilnya ialah secara doktrinal mereka sesat dan secara moral mereka menjadi bejat. Setelah Nuh, satu-satunya orang yang masih ingat dan melaksanakan upacara simbolik yang Tuhan perintahkan, terapung-apung hampir satu tahun dan kemudian ia mendarat, hal pertama yang dilakukannya ialah mempersembahkan korban domba (Kej.8:20-21). Allah bergembira atas dipersembahkannya kembali upacara simbolik yang telah terlupakan.

Pada zaman PL iblis berulang-ulang menghasut manusia untuk melupakan atau meniadakan upacara korban domba yang diperintahkan untuk mengingat akan janji Allah, dan menggambarkan penghukuman Sang Juruselamat yang masih jauh di depan. Pada zaman PB Allah perintahkan agar jemaat lokal akitabiah melaksanakan upacara simbolik yang sifatnya mengingatkan pada setiap orang tentang kebenaran Sang Juruselamat yang telah mati dan dikuburkan demi dosa kita serta bangkit dari kematian untuk pembenaran kita. Baptisan adalah foto tentang kematian dan kebangkitan Kristus demi kita.

Iblis berusaha menghasut agar pemimpin gereja menafsirkan bahwa baptisan telah ditiadakan sehingga gereja tidak melaksanakan lagi pembaptisan, yang dapat disamakan dengan penurunan foto / simbol tentang kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Jadi peniadaan acara pembaptisan adalah kesalahan yang sangat-sangat besar.

Bagi yang ngotot tetap melaksanakan pembaptisan, iblis berusaha menghasut pemimpin gereja tertentu untuk mengganti foto itu dengan foto lain. Pembaptisan yang seharusnya masuk ke dalam air, diubah menjadi sekedar dipercikkan dengan beberapa tetes air. Ini adalah tindakan pembangkangan yang tidak disadari atau memang sangat disadari.

Menjawab 1 Kor. 1:17

1 Kor. 1:14-17

Aku mengucap syukur bahwa tidak ada seorangpun juga di antara kamu yang aku baptis selain Krispus dan Gayus,

15 sehingga tidak ada orang yang dapat mengatakan, bahwa kamu dibaptis dalam namaku.

16 Juga keluarga Stefanus aku yang membaptisnya. Kecuali mereka aku tidak tahu, entahkah ada lagi orang yang aku baptis.

17 Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis, tetapi untuk memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia.

Pihak yang menolak untuk melaksanakan praktik pembaptisan pada saat ini seringkali mengutip ayat diatas sebagai dasar argumennya.

Jawab:

Di dalam I Kor.1:17 dikatakan bahwa Kristus tidak mengutus Paulus untuk membaptis tetapi untuk memberitakan Injil. Namun pada beberapa ayat sebelumnya (14-16) ia mengakui telah membaptis beberapa orang dalam jemaat Korintus. Dan perlu diingat bahwa surat I Korintus ini ditulis dari Efesus, dimana rasul Paulus di situ kemudian membaptis 12 orang lagi (Kis.19:7).

Kalau seseorang membaca ayat tersebut di atas dengan teliti maka akan tahu rasul Paulus sama sekali tidak mengatakan bahwa TIDAK ADA upacara baptisan lagi, melainkan ia tidak diutus untuk membaptis, atau yang betanggung jawab untuk membaptis. Betul sekali bahwa ia tidak diutus untuk membaptis melainkan sebagai pionir untuk memberitakan Injil, atau untuk membangun jemaat. Itulah sebabnya ia tidak membaptis semua orang yang percaya, melainkan orang-orang pionir saja. Sesudah ditetapkan seorang gembala di jemaat yang terbentuk, maka selanjutnya gembala itulah yang membaptis orang.

Menasfsirkan secara hyper-dispensational bahwa masa pembaptisan sudah selesai adalah sistem penafsiran yang keliru. Untuk membagi masa dispensasi tentu harus ada aturannya. Untuk membedakan satu dispensasi zaman dengan yang lain, harus ada hal hal khusus yang tidak terdapat pada zaman yang lain. Paulus tidak pernah meniadakan baptisan, buktinya sesudah membaptis orang di Korintus, kemudian ia membaptis orang lagi di Efesus. Ia hanya berkata bahwa ia tidak diutus untuk membaptis, ia adalah rasul, bukan gembala. Gembala Jemaat adalah jabatan yang khusus bertanggung jawab atas pembaptisan.

Paulus membaptis beberapa orang Korintus atas otoritas jemaat Anthiokia yang mengutus dia. Setelah ada orang yang telah dibaptiskan di Korintus, berarti di Korintus berdiri jemaat Korintus. Selanjutnya, Gembala jemaat Korintuslah yang membaptis orang-orang yang percaya kemudian atas otoritas jemaat Korintus. Sama sekali tidak benar jika dikatakan bahwa Paulus menghentikan praktek pembaptisan.

Dari Kisah Para Rasul kita tahu bahwa Paulus lebih dulu tiba di Korintus (pasal18) baru kemudian ke Efesus (pasal 19), dan di Efesus Paulus kemudian membaptis 12 orang lagi (Kis.19:7). Dan kita juga tahu bahwa Surat Korintus ditulis dari Efesus (I Kor.16:8-9,19), di rumah Kloe (I Kor.1:11), sekitar tahun 55 AD. Enam tahun kemudian ketika ia menulis surat Efesus dari penjara di kota Roma, sekitar tahun 60-61 AD, ia masih menyinggung tentang baptisan (Ef.4:5), tidak melikuidasinya.

Setiap orang Kristen yang tadinya percaya bahwa baptisan telah ditiadakan harus segera bertobat dan melaksanakan baptisan dengan benar. Jika pemimpin gereja terlalu keras kepala dan demi gengsi tidak peduli pada kebenaran yang alkitabiah, tentu anggota jemaat yang tidak mau terlibat pada kesalahan yang sangat besar itu harus ambil tindakan. Keluar dari gereja yang berusaha menurunkan foto tentang kematian dan kebangkitan Kristus itu.

BAPTISAN ALKITABIAH

Sekarang, mari kita bahas bagaimanakah menurut Alkitab syarat baptisan?

1)  Harus dilaksanakan terhadap orang yang TELAH DIBENARKAN, artinya orang yang telah dilahirkan kembali

Tidak dibenarkan sama sekali untuk membaptiskan bayi, atau orang dewasa yang belum percaya.

Baptis bayi adalah berbicara tentang pengajaran dan tradisi yang dipopulerkan gereja Roma Katolik yang sejak awal menyimpang. Tidak ada satu argumen yang berasaskan kepada Firman Tuhan (Alkitab) untuk mendukung baptisan bayi.

Baptisan bayi bukanlah topik yang kecil, kuno, dan tidak penting. Memang perdebatan tentang doktrin yang satu ini sudah berlangsung selama ratusan bahkan ribuan tahun. Banyak orang masa kini, yang sengaja ingin lari dari kebenaran, mengatakan, “permasalahan ini sudah sangat kuno, dan sejak dahulu tidak pernah selesai, jadi untuk apa kita mengulangnya lagi?”

Ya, memang belum selesai, dan tidak akan pernah selesai, dan ketemu titik terangnya jika dua hal yang sudah jelas-jelas bertentangan “dipaksakan” untuk bersatu dan yang sudah jelas-jelas menyimpang masih terus dipraktekkan.

Firman Tuhan dengan jelas hanya berbicara, mendukung, dan melaksanakan baptisan hanya kepada orang yang sudah percaya (diselamatkan) dan tidak ada satu ayat pun di Alkitab yang mendukung pengajaran baptisan bayi apalagi praktiknya. Berikut pernyataan-pernyataan Alkitab tentang baptisan:
a. Baptisan adalah tanda pertobatan, ( Matius 3:11). Apakah bayi dapat bertobat?


b. Baptisan hanya boleh dilakukan atas orang yang telah percaya ( Kis 8:36-37) (Apakah bayi dapat percaya?


c. Baptisan tidak boleh dilakukan pada bayi, ataupun orang yang belum paham Injil (belum diselamatkan).


d. Dibaptis untuk menjadi murid Tuhan Yesus (Mat.28:19-20). Apakah bayi dapat menjadi murid?

Menjawab ayat-ayat Alkitab yang sering disalah-mengerti oleh kelompok “pembaptis” bayi

Kelompok pelaksana maupun pendukung praktik “baptisan” bayi biasanya berargumen pada dua poin berikut:

1) Kalau memang orang yang dibaptis harus “orang yang sudah percaya”, berarti Yesus sebelum dibaptis bukan orang percaya.

Jawab:

Jelas ini argumen yang sangat aneh dan tidak mengerti kebenaran. Yesus perlu beriman atau “percaya” kepada siapa? Perihal iman atau kepercayaan HANYA berlaku dan berkaitan dengan pribadi diluar Tuhan. Sebagai penambahan, pelaksanaan pembaptisan atas diri Yesus Kristus adalah sebagai contoh dan sebagai tanda memulainya pelayanan Tuihan Yesus secara “Go-Publik”. Dan juga adalah sebagai penggambaran akan mati, dikuburkan, dan dibangkitkan yang akan terjadi atas diri-Nya (Rom. 6:3-4).

2). “Lalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” (Matius 19:13-14)

Kelompok pembaptis bayi seringkali memakai ayat ini untuk mengatakan bahwa Alkitab mengajarkan praktek baptisan kepada anak-anak. Biasanya sambungan dari ini mereka ingin berkata bahwa bayi yang lahir (karena kturunan Adam) memiliki dosa “keturunan” sehingga perlu dibaptis untuk menjadi milik Tuhan dan mendapat kepastian masuk sorga.

Jawab:

Terlihat jelas bagaimana mereka telah sedemikian tidak ada cara mencari jalan keluar dari kesesatan praktek baptisan bayi sehingga sembarangan saja mengutip dan menafsir ayat Alkitab.

a. Tidak ada indikasi sama sekali anak-anak yang datang kepada Yesus itu dibaptis oleh Yesus. Ini hanyalah kayalan belaka saja. Jelas dikatakan di ayat tersebut, orang tua dari anak-anak itu hanyalah meminta Yesus memberkati anak-anak mereka bukan supaya dibaptis.

b. Mengenai topik dosa “keturunan”

Perlu diluruskan bahwa kurang tepat istilah dosa waris, yang lebih tepat adalah kita berdosa oleh karena Adam secara Posisi (posisional) dihadapan Allah Bapa. Tetapi itu pun sudah dibayar lunas oleh Yesus Kristus. Silahkan baca Roma 5:12-19 (oleh dosa Adam semua manusia keturunannya mewarisi sifat dosa sehingga kecenderungan hatinya ingin berbuat dosa dan posisi manusia yang berdosa. Tetapi oleh perbuatan Yesus Kristus semua itu telah diabyar lunas sehingga semua keturunan Adam yang lahir (yang belum akil balik) hutang dosa karena Adam sudah dibayar lunas).

Jadi, jelas Tuhan mengatakan bahwa anak-anak memang empunya kerajaan sorga. Mereka sudah dipastikan memiliki sorga apabila meninggal saat anak-anak (belum akil balik) apalagi saat bayi, tidak peduli dia anak siapa (ntah anak orang baik atau anak orang jahat).

Tetapi berbeda dengan keturunan Adam yang sudah akil balik, dan melakukan dosa atas kesadaran dirinya, maka ia memilki hutang dosa, bukan lagi karena Adam tetapi karena dirinya sendiri. Orang demikian harus melunasi hutangnya di dalam Yesus Kristus (Bertobat dan percaya Yesus).

Bertobat artinya seseorang harus mengakui diri seorang yang berdosa dihadapan Tuhan, lalu ia menyesali dosanya itu dan beretekad untuk berbalik ke jalan Tuhan. percaya artinya : mengaminkan dengan segenap hati bahwa yesus Kristus sudah dihukumkan bagi semua dosa dia (dulu,sekarang, sampai kepada dosa yang terakhir), dan bersedia hidup bagi Yesus (Gal 2:20).

c. Kebanyakan mereka memang tidak akan sampai kepada kesimpulan baptisa bayi itu menyimpang dari alkitab karena memang dalam menyelidiki dan menafsirkan Alkitab telah terprinsip dulu konsep pengajaran yang telah dipegangnya. Ketika dalam konsep mereka tersimpan bahwa seseorang perlu dibaptis untuk masuk sorga maka dalam melihat konteks Matius 19:13-14 mereka menafsir “anak-anak” dalam ayat tersebut pasti dibaptis karena tidak mungkin mereka menjadi milik kepunyaan Sorga kalau belum dibaptis.

Ingat, bahwa seseorang hanya akan mendapat kepastian masuk Sorga jika dan jika hanya Bertobat dan Percaya kepada Yesus Kristus. Kalau perlu ditambah baptisan maka pengorbanan Yesus Kristus bukan menjadi satu-satunya jalan menuju Bapa tetapi ada jalan tambahan yaitu melalui gembala atau “pendeta” yang membaptis.

Yohanes Pembaptis memberi syarat kepada mereka yang akan dibaptis agar sudah bertobat, beriman, melakukan pengakuan dosa dan hidup di dalam kehidupan yang benar (Mat. 3: 2; Kis. 19: 4).

Yesus melakukan pemuridan terlebih dahulu dan kemudian membaptis mereka (Yoh. 4: 1), dan memberikan perintah khusus bahwa pengajaran harus mendahului baptisan (Mat. 28: 19).

 Di dalam pengajaran para rasul, pertobatan mendahului baptisan (Kis. 2: 38); para petobat dipenuhi dengan sukacita, dan hanya orang dewasa saja (laki-laki maupun wanita) yang dibaptis (Kis. 8: 6, 8, 12). Tidak ada catatan atau kesimpulan yang mengimplikasikan bahwa baptisan bayi dilakukan oleh Yesus maupun rasul-rasulnya.

2)  Harus Dilaksanakan dengan cara yang benar, yaitu dimasukkan ke dalam air, bukan diteteskan atau dipercikkan air apalagi DIKIBAR bendera

Arti kata baptiso adalah masuk ke dalam air. Kalau dipercikkan air dalam bahasa Yunani ialah rantiso (Ibrani 9:21).

Baptisan adalah harus dimasukan kedalam Air, sesuai dengan arti kata baptisan: Baptizo dan juga simbol yang digambarkan dalam Roma 6:1-4:
Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?
Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.


Seseorang yang telah dibaptis menggambarkan kematian, dikuburkan, dan dibangkitkan bersama Yesus. Lalu, “bayi yang dipercik-percik” air menggambarkan apa?? Menggambarkan apapun terserah, yang jelas tidak menggambarkan kematian, dikuburkan, dan dibangkitkan bersama Yesus.

Bentuk baptisan adalah masuk ke dalam air, atau menyelam ke dalam air. Yohanes membaptis di sungai Yordan (Mrk. 1: 5); dan ia membaptis di Ainon, dekat Salim “sebab disitu banyak air” (Yoh. 3: 23). Yesus dibaptis di sungai Yordan (Mrk. 1: 9), dan Ia “masuk ke dalam air” dan “keluar dari air” (Mat. 3: 16; Kis. 8:37-38). Perikop-perikop simbolis (Rom. 6: 3, 4; Kol. 2: 12), yang menggambarkan baptisan sebagai sebuah penguburan dan kebangkitan yang dengan jelas menyatakan bahwa cara selam merupakan pelaksanaan baptisan Perjanjian Baru.

Istilah “baptisan” memang merupakan makna perkataan Yunani baptizein. Perkataan tersebut didefinisikan oleh Liddell dan Scott, yakni kosa kata sekuler Yunani yang digunakan di semua sekolah tinggi dan universitas, sebagai “menyelam atau di bawah air”.

Seluruh pakar menyetujui pandangan ini. Prof. R.C. Jebb, Litt. D., University of Cambridge, mengatakan: “Saya tidak tahu apakah ada yang mempunyai wewenang dalam kosa kata Yunani-Inggris yang mengubah kata tersebut menjadi bermakna ‘memercik’ atau ‘menetes/mencurah/menuang’. Saya hanya bisa mengatakan bahwa pengertian tersebut bukan berasal dari kata tersebut di dalam kesusasteraan Yunani” (Letter to the Author, 23 September, 1898).

Dr. Adolf Harnack, University of Berlin, mengatakan: “Tidak diragukan bahwa baptisan berarti selam. Tidak ditemukan bukti bahwa kata tersebut mempunyai arti yang lain di dalam Perjanjian Baru dan di dalam kepustakaan Kristen yang paling lamapun” (Schaff, The Teaching of the Twelve, 50).

Dr. Dosker, Profesor Sejarah Gereja dari Presbyterian (Gereja Presbiterian beraliran Calvinistik dan lebih mendukung praktik baptisan bayi) Theological Seminary, Louisville, mengatakan: Setiap sejarawan yang tulus akan mengakui bahwa kaum Baptis memiliki argumentasi yang lebih bagus, baik secara ketatabahasaan maupun sejarah mengenai bentuk baptisan yang berlaku. Kata baptizo berarti menyelam, baik di dalam kesusasteraan Yunani maupun dalam Alkitab bahasa Yunani, kecuali jika secara nyata menunjukkan pemakaian yang berubah makna (Dosker, The Dutch Anabaptists, 176, Philadelphia, 1921).

Sudah jelas tidak Alkitabiah, tetapi masih saja dipraktekkan. Bahkan banyak gereja dan denominasi kekristenan melakukan ini. Mengapa bisa demikian?

1) . Tentu dibalik semua ini adalah peranan Iblis yang sedemikian menghancurkan doktrin gereja kekristenan sehingga merambat ke doktrin utama kekristenan (Keselamatan). Dengan demikian banyak manusia akan binasa dan menemaninya di Neraka.

2) Cara yang tidak patut yang ditempuh oleh kelompok pembaptis bayi (Baik katolik maupun kelompok Reformasi yang setuju baptis bayi). Mereka yang telah sedemikian menganiaya, membunuh, mencaci, merampas, mengolok, mengusir, menculik, menyiksa kelompok-kelompok “bawah tanah”, Anabaptis. Seperti perkataan: “We Forgive but never Forget”, demikianlah kami sebagai generasi kaum “Anabaptis” berkata kepada mereka yang telah sedemikian menganiaya, membunuh, mencaci, merampas, mengolok, mengusir, menculik, menyiksa “bapak-bapak” rohani kami.

3) Sebenarnya, sejaka dulu kelompok “Kristen” baptis bayi sudah terbukti tidak punya argumen sama sekali mempertahankan prakteknya kecuali hanya tradisi belaka. Tidak ada cara lain yang mereka tempuh, karena tidak mau taat kepada kebenaran Firman Tuhan, mereka melakukan tindakan yang tidak mencerminkan pengikut Kristus sejati.

Bukan hanya secara eksternal mereka melakukan tindakan kejahatan, lebih berbahaya lagi secara internal. Para pemimpin mengisolasi pengikut atau jemaat mereka untuk mengejar kebenaran. Mereka dilarang membaca Alkitab, mengikuti suatu pengajaran diluar katolik, tidak boleh menafsir Alkitab berdasarkan pengertian sendiri, tetapi harus didasarkan “penafsiran” gereja.

Cara ini sedemikian ampuh sehingga setidaknya dapat membendung tindak tanduk dari kelompok Alkitabiah yang gencar memberitakan Firman Tuhan. Kalau mereka mau bertindak fair terhadap ajaran denominasi lain yang berseberangan dengan mereka, sudah dipastikan mereka akan sepi pingikut. Tapi nyatanya memang Iblis benar-benar memakai mereka sebagai alat untuk menindas kebenaran.


3). Sikap kompromi yang ditunjukkan oleh pelopor Reformasi juga sangat berdampak besar. Martin Luther secara umum dikenal sebagai pelopor gerakan reformasi pada abad 16 AD. Sebenarnya, sebelum dia sudah begitu banyak orang yang berusaha memisahkan diri dari gereja Katolik dan “memprotes” pengajaran mereka dan luarbiasanya mereka tidak mengambil langkah kompromi.

Misalnya: Seabad sebelumnya Luther sudah didahului oleh Jan Hus dari Bohemia, dan pada abad ke-14 seorang sarjana Inggris John Wycliffe, malahan di abad ke-12 seorang Perancis bernama Peter Waldo dapat dianggap seorang Protestan pertama.

Tetapi, pengaruh para pendahulu Martin Luther itu dalam gerakannya cuma punya daya cakup lokal. Tidak mendapat dukungan yang signifikan sehingga tidak berpengaruh cukup luas dan (kita tahu ceritanya) mereka tetap tidak bisa bertindak bebas. Sejarah mencatat salah satu hal yang ditentang oleh Martin Luther mengenai pengajaran Katolik adalah mengenai baptisan bayi.

Ia sangat tahu bahwa Alkitab tidak mendukung sama sekali praktek baptisan bayi. Ia, setelah sedemikian membaca Alkitab menyimpulkan bahwa baptisa hanya untuk orang yang sudah mampu percaya kepada Yesus Kristus. Ia kemudian dikejar-kejar oleh Katolik untuk ditangkap dan dibunuh.

Singkat cerita, Luther meminta perlindungan dari raja Jerman. Raja Jerman bersedia menolong dia dengan satu syarat semua bayi warga negaranya yang lahir wajib di baptis di gereja yang digembalakan oleh Martin Luther. Satu langkah yang amat disayangkan diperbuat oleh Luther (mungkin sudah buntu tidak tahu mau lari kemana lagi dari kejaran Katolik yang cukup berkuasa di Eropa saat itu), adalah dengan menyetujui syarat itu meskipun bertentangan dengan pemahamannya sendiri.

Akhirnya, Luther dengan sangat terpaksa melakukan kompromi untuk satu doktrin yang tidak kecil ini. Mengapa saya katakan TIDAK kecil?
Apa yang terjadi pada masa sekarang di Eropa (Secara khusus adalah Jerman) bisa ditarik dari jaman dimana Luther berkompromi. Dalam dunia Teologi, Jerman sudah terkenal akan tokoh-tokoh Liberal-nya yang sangat berpengaruh di dunia kekristenan.

Kelompok Kristen Liberal adalah kelompok yang mengaku “Kristen” namun dalam pengajarannya selalu menyerang fondasi Iman kekristenan yaitu Alkitab. Mereka meng-kritik habis-habisan Alkitab dengan mengatakan bahwa:
* Cerita-cerita di dalam Alkitab ( misal: tentang Yunus, Musa di Mesir, dll) sebagai cerita fiktif dan mitos masyarakat jaman itu saja, yang kebenaranya hanya sebagian, namun ditambahkan oleh penulis Alkitab di kemudian hari.

* Para Nabi, Raja dan Rasul yang menulis Alkitab bukanlah penulis sebenarnya melainkan orang lain yang “misterius”. Misalnya: Musa sebenarnya bukanlah penulis Taurat melainkan orang lain yang tidak diketahui namanya siapa, Matius bukanlah penulis asli Injil matius, dll.

*Tidak percaya bahwa Allah menginspirasikan dalam penulisan Alkitab dan memelihara (preservasi) itu sepanjang jaman. Dengan demikian menyatakan bahwa Alkitab hanyalah buku biasa, murni buatan tangan manusia tentang sejarah, boleh percaya boleh tidak.

Praktek baptisan bayi menghasilkan orang-orang Kristen yang menjadi anggota suatu gereja namun belum sungguh-sungguh lahir baru. Dari situ, menghasilkan orang-orang Kristen yang tidak peduli, mencari, dan mencintai kebenaran. Kemudian, melahirkan orang-orang Kristen Liberal dan Pluralis (mengatakan bahwa semua agama sama saja, ujung-ujungnnya akan menuju Tuhan yang sama). Dan kini telah menghancurkan individu-individu di Eropa secara menyeluruh. Demi menyelamatkan nyawanya yang sebenarnya bersifat sementara saja, ia rela melakukan kompromi dengan doktrin yang sangat banyak membawa orang menuju kebinasaan kekal. Sungguh tindakan yang fatal.

Zwingli, seorang yang terkenal sangat ahli dalam bahasa Yunani di jamannya, memungkiri sendiri kemampuannya berbahasa Yunani. Salah seorang muridnya, bernama Felix Manz mencoba memberitahu dia akan kesalahannya
Salah satu yang ditentang felix manz adalah konsep baptisan bayi dan baptisan dapat menyelamatkan jiwa. Bagi Manz baptisan adalah tanda pertobatan dan tidak memiliki andil sedikitpun pada keselamatan. Menurutnya, baptisan bayi tidak alkitabiah, sehingga setelah dewasa dan percaya kepada Yesus maka mereka harus dibaptis ulang.

Oleh karena pendapatnya dianggap menyimpang oleh gereja Protestan yang dipimpin oleh Zwingli, maka selama hidupnya dia menderita penganiayaan hebat dan seringkali keluar masuk penjara. Pada tahun 1526, ia telah dijatuhi hukuman penjara di mana ia makan roti dan minum air sampai ia akan “mati dan membusuk”.

Jam 3 sore pada tanggal 5 Januari 1527, dia dibawa terikat dari penjara terakhir untuk ditenggelamkan di sungai Limnat yang dingin, sebagai “hukuman penghinaan” bagi golongan baptis ulang (anabaptis) dan menerima baptisan ketiga kali, yaitu ditenggelamkan di sungai Limnat.

Pada perjalanan menuju tempat eksekusi ia terus memberitakan Injil. Dan ketika melewati depan rumahnya, ibunya berteriak-teriak memberikan dukungan agar Felix Manz tidak menyangkali imannya.

Kaki dan tangan diikat kayu dan mulai ditenggelamkan. Sesaat sebelum ditenggelamkan, ia berseru “Ke tangan-Mu ya Tuhan, aku serahkan nyawaku.”

4)  Harus dilaksanakan atas otoritas jemaat lokal yang benar (alkitabiah). 

Tidak dibenarkan untuk membaptis orang atas otoritas toko buku, yayasan penginjilan atau bahkan sinode. Kita dibaptis atas otoritas jemaat lokal alkitabiah yang adalah tubuh Kristus. Dibaptiskan dalam nama Tritunggal Allah, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus.

Syarat pertama tentu orang yang akan dibaptis harus telah dilahirkan kembali, yaitu orang yang telah dibenarkan di dalam Yesus Kristus. Artinya orang tersebut telah bertobat dan percaya dengan segenap hati (Kis.8:37). Tentu ia harus telah dewasa karena sudah bisa memberi diri dibaptis. Orang yang belum bisa memberi diri dibaptis, masih dalam gendongan, belum layak untuk dibaptis.

Sudah pasti harus dimasukkan ke dalam air, bukan ditetesi air. Kata baptiso artinya masuk kedalam air. Kalau dipercik dengan air bahasa Yunaninya adalah rantiso. Jadi, kalau hanya ditetesi atau diperciki air orang itu dirantis bukan dibaptis.

Syarat yang ketiga ialah dilaksanakan oleh gereja yang alkitabiah. Gereja yang tidak alkitabiah adalah gereja yang pengajaran pengajaran pentingnya telah menyimpang. Bisa jadi kesalahan dan kesombongan manusia yang telah menyimpangkannya. Tetapi bisa juga karena pengaruh iblis melalui orang-orang yang disusupkan, sehingga memiliki pengaruh di dalam gereja. Bagaimanakah cara memeriksa kondisi sebuah gereja?

Tiga pengajaran (doktrin) utama kekristenan, Keselamatan, Alkitab, dan Gereja, adalah doktrin yang sangat menentukan.

Mari kita melihat, berdasarkan Alkitab, bagaimanakah pengajaran yang Alkitabiah itu tentang Keselamatan, Alkitab dan Gereja.

A. Apakah kata Allah dalam Alkitab mengenai jalan keselamatan manusia (soteriologi),

B. Apakah kata Allah dalam Alkitab mengenai Alkitab itu sendiri (bibliologi), dan

C. Apakah kata Alkitab mengenai praktik-praktik gereja yang Alkitabiah (Ekklesiologi).

Catatan :

+ Bibliologi adalah DASAR semua pengajaran (doktrin) Kekristenan. Sebab semua doktrin kekristenan yang benar haruslah didasarkan pada SELURUH ayat-ayat Alkitab.

+ Soteriologi adalah PUSAT dari semua doktrin Kekristenan. Sebab segala yang TERTULIS dalam Alkitab pada intinya berpusat pada Keselamatan dati Allah Pencipta kepada Umat manusia ciptaanNya yang telah jatuh ke dalam dosa.

+ Ekklesiologi adalah PINTU dari segala doktrin Kekristenan. Sebab segala pengajaran Alkitab disalurkan atau digaungkan melalui Gereja, yang adalah Tiang Penopang dan Dasar Kebenaran (1 Tim. 3:15). Karena di Perjanjian Baru Allah memakai Jemaat sebagai TPDK, maka untuk menjadi kokoh, sebuah Gereja HARUS memberitakan pengajaran maupun melaksanakan praktik-praktik yang benar dan Alkitabiah.

Doktrin Keselamatan yang Sesuai dengan firmanNya – SOTERIOLOGI

A). Sejak manusia (Adam dan Hawa) jatuh ke dalam dosa, ia menjadi orang berdosa, sekecil apapun dosanya. Karena Sorga tempat yang mahakudus dan Allah adalah pribadi Yang Mahakudus, maka orang berdosa tidak bisa menghampiri Allah di Sorga.

Menurut Alkitab, Allah Yang Mahaadil menghendaki dosa diselesaikan dengan SATU CARA, yaitu DIHUKUMKAN (Rom. 6:23). Dosa tidak dapat diselesaikan dengan usaha manusia (beramal, bertapa, berbuat baik, dll).

Ini adalah berita buruk untuk manusia karena ternyata tidak ada seorangpun yang tidak berdosa (Rom. 3:23) maka semua orang pantas menerima upahnya, yaitu maut (yaitu Api Neraka yang Kekal). Tetapi Puji Syukur, Alkitab tidak berhenti sampai memperkenalkan Allah sebagai pribadi yang mahakudus dan mahaadil, Ia juga adalah pribadi mahakasih.

Oleh karena itu, Tuhan Yesus, yang adalah Allah Pencipta itu sendiri, datang ke dunia menjadi manusia dan MENANGGUNG dosa SEISI dunia (Fil. 2:7; Yoh. 3:16; 1 Yoh. 2:2). Inilah kabar baiknya, yaitu bahwa ada jalan penyelesaian atas perbuatan dosa manusia dan manusia bisa mendapatkan KEPASTIAN masuk Sorga.

Manusia TIDAK PERLU lagi dihukum atas dosa-dosanya karena sudah ada yang menggantikannya. Allah telah menyelesaikan karya keselamatan-Nya, kini manusia hanya dituntut untuk menerima kasih karunia-Nya.

Pengajaran keselamatan yang sesuai dengan Alkitab (Alkitabiah) adalah bahwa seseorang mendapat KEPASTIAN masuk Sorga HANYA dengan *Bertobat* (mengaku diri orang berdosa dan menyesalinya) dan *Percaya* (Setuju/mengaminkan bahwa Tuhan Yesus sudah tersalib bagi SELURUH dosanya dan kini ia hidup bagi Yesus) –  Mrk. 1:15; Ef. 2:8; Yoh. 3:16; Fil. 1:21

B). Hanya ada SATU jalan menuju Sorga, yaitu melalui Yesus Kristus (Yoh. 14:6), baik orang-orang di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Bedanya, orang-orang di PL Beriman (Bertobat dan Percaya) kepada Juruselamat YANG AKAN DATANG (Gal. 3:6-8), sementara orang-orang di PB (termasuk kita) Beriman kepada Juruselamat YANG SUDAH DATANG.

Tuhan yang konsisten berkepentingan membuat HANYA satu jalan keselamatan dari zaman manusia pertama (Adam) sampai manusia terkahir di muka bumi.

Tetapi iblis (yaitu malaikat pembangkang – lucifer) SANGAT berkepentingan membuat SEBANYAK-BANYAKNYA jalan (Ams. 14:12) supaya kalau manusia berhasil lolos di jalan yang satu, kemungkinan akan masuk ke jalan yang kedua, demikian seterusnya, sehingga ada istilah keluar dari mulut buaya masuk ke mulut Singa.

Iblis sejak semula amat haus akan penyembahan (Mat. 4:9) dan terus berusaha tanpa kenal lelah menggiring sebanyak mungkin manusia menuju jalan kesesatan dan berpaling dari Sang Pencipta.

C) Ketika seseorang telah Bertobat dan Percaya dengan segenap hati kepada Sang Juruselamat, maka saat itu juga, dia mendapatkan hal-hal istimewa, yaitu:

i). Dimeteraikan dengan Roh Kudus (Ef. 1:13) sehingga menjadi/disebut ORANG KUDUS (1 Kor. 1:2; Ef. 1:1).

Roh Kudus tetap tinggal dalam diri orang percaya tersebut selagi yang bersangkut tetap TINGGAL di dalam iman yang benar (1 Yoh  4:15).

Penerapannya:

Praktik meminta Roh Kudus hadir saat kebaktian adalah tidak perlu dan kekeliruan karena Roh Kudus tinggal tetap di hati orang percaya dan tidak pergi kemana-mana. Selain itu, ini juga adalah bentuk penghujatan, sebab Roh Kudus adalah Pribadi Allah yang tidak boleh sembarang diperintah oleh kita.

Penerapan kedua:

Praktik dan istilah yang benar adalah Perjamuan Tuhan, bukan Perjamuan Kudus:

+ Istilah yang sesuai Alkitab = Perjamuan Tuhan (1 Kor. 10:21, 11:20).

+ Karena maknanya adalah untuk MENGINGAT akan Tuhan, bukan untuk menguduskan ( Luk. 22:19; 1 Kor. 11:24). Kita menjadi Kudus seutuhnya hanyalah dengan menerima anugerah penebusan Tuhan Yesus melalui iman (Ef. 1:1, 13).

Catatan tambahan: Istilah Perjamuan Kudus ( Holy communion) berasal dari Gereja Roma Raya/Katolik, yang berdiri sejak abad ke-4 AD.

Mereka memakai istilah itu karena memang mereka memahami praktik upacara itu untuk *menguduskan*, maka itu disebut sakramen (berasal dari kata “sakral” yg artinya kudus).

Tetapi kita yang mau sesuai Alkitab haruslah memahami dan melakukan perintah (ordonansi) Perjamuan Tuhan, sebagai peringatan akan Dia, bukan supaya kudus.

Penerapan ketiga:

Tidak perlu/boleh dilakukan acara pelepasan lagi atau “urap mengurap” Karena seriap orang yang telah pahir baru (bertobat & percaya) telah DIBEBASKAN dari kuasa *kegelapan* dan telah menerima pengurapan langsung dari Roh Kudus tanpa perantara (Ef. 1:13; Kol. 1:13; 1 Yoh. 2:20, 27).

ii). Menjadi anak Allah (Yoh. 1:12)

iii). Menjadi Imam atas dirinya sendiri, bahkan imamat yang rajani (1 Pet. 2:9)

Penerapannya:

Dalam gereja Tuhan yang benar, tidak lagi ada jabatan imam ataupun bentuk praktik keimamatan.

Salah satu bentuk praktik ‘keimamatan” adalah misalnya ketika di akhir kebaktian ada pemimpin gereja yang mengangkat tangannya untuk doa berkat kepada jemaatnya.

Pernah ada seorang wanita yang bercerita, di gerejanya ketika “pendeta”nya di mimbar mengangkat tangan doa berkat, maka jemaatnya yang dibawah diperintahkan menadahkan tangan menerima berkat. Ini jelas adalah praktik keimamatan.

Dulu, Allah pernah menetapkan setiap ayah menjadi imam atas keluarganya (dari zaman Adam hingga Harun), inilah zaman _family altar_ . Oleh karena itu kita membaca dalam Alkitab Nuh, Abraham, Ayub, Ishak, Yakub mereka memberkati anak2 mereka.

Tetapi karena banyak ayah yang tidak beres, Allah menghapus otoritas mereka, lalu diganti kepada Harun dan keturunannya lagi-lagi yang menjabat sebagai imam (Kel. 28; Bilangan 3).

Sejak saat ini zaman “Family Altar” berakhir, dan kita membaca misalnya Daud, Salomo, dll tidak lagi memberkati anak2 mereka secara langsung melainkan melalui perantara imam (pada zaman Daud imamnya adalah Abyatar dan Zadok).

Sekarang, yaitu zaman PB, sejak Yohanes pembaptis tampil, Hukum Taurat dan Kitab para Nabi digenapi atau berakhir masanya sebab Yang Dijanjikan Sudah Tiba, Yaitu Mesias ( Luk. 16:16; Mat. 11:14; Luk. 24:44).

Maka sejak saat ini sampai kedatanganNya yang kedua, Setiap Orang Percaya adalah Imam (1 Pet. 2:9).

Catatan dan peringatan: Jikalau ada orang berlagak menjadi imam padahal Tuhan tidak otoritaskan kepadanya, maka dia sudah bertindak seperti Korah (Yud. 1:11). Tuhan amat marah dengan Korah sampai membinasakannya dengan cara yang mengerikan (Bilangan 16).

D. Inilah INJIL yang murni yang TIDAK boleh ditambahkan atau dikurangkan. Tidak boleh ditambah dengan HARUS melakukan perbuatan baik supaya bisa masuk Sorga, HARUS hidup sempurna, HARUS dibaptis, dan lain sebagainya.

Lalu, apakah demikian orang yang sudah bertobat dan percaya tidak perlu berbuat baik? Apakah faedah/manfaatnya perbuatan baik seorang yang sudah diselamatkan (Bertobat dan percaya)?

Sangat perlu. Kita (orang Percaya) berbuat baik dan hidup semakin kudus adalah karena kita mau HIDUP bagi Yesus (Fil. 1:21) dan mendapatkan UPAH (1 Kor. 3:11-15; Rom. 8:18) serta memuliakanNya dengan menjadi terang dan garam (Mat. 5:13-14; Rom. 12:1-2).

Jadi berbuat baik, BUKAN lah supaya masuk Sorga (karena kita diselamatkan oleh iman, bukan perbuatan – Ef. 2:8-9) melainkan justru KARENA sudah pasti masuk Sorga dan mau bercahaya di dunia (Mat. 5:13-14) agar tidak menjadi batu sandungan, melainkan bisa membawa jiwa kepada Tuhan melalui pola hidup yang benar.

Dan dibaptis bukan untuk masuk Sorga melainkan untuk menjadi murid (Mat. 28:19-20), yaitu menjadi anggota jemaat yang lokal dan independen.

Dalam Doktrin Keselamatan (Soteriology), harus murni diselamatkan dengan bertobat dan percaya. Tidak boleh ditambah maupun dikurangi. Terjadi penambahan dan pengurangan juga dapat dilihat pada pelaksanaan doktrin gerejanya.

Pengajaran Tentang Alkitab  – Bibliologi

A). Sebelum Alkitab selesai ditulis, Allah memakai WAHYU UMUM Nya, yaitu alam semesta, hati nurani, dan perjalanan sejarah manusia supaya manusia bisa yakin ada Sang Pencipta yang membuat dunia ini.

Untuk mengenal-Nya lebih dalam lagi, Allah memberikan wahyu khusus kepada umat manusia, yaitu undian, urim dan tumim, Kristofani, mimpi, penglihatan, malaikat, nabi, rasul. Nabi menulis kitab PL dan rasul menulis kitab PB.

Akhirnya, sampailah kepada satu kitab yang tertulis, definit, lengkap, dengan kata lain SEMPURNA, yaitu Alkitab yang merupakan hasil karya Roh Kudus (2 Tim. 3:16-17; 2 Pet. 1:20; 1 Kor. 13:9-10).

B). Kita percaya bahwa Alkitab adalah SATU-SATUNYA firman Allah yang lengkap (1 Kor. 13:9-10; 2 Tim. 3:16-17) atau Kanon Tertutup. Maka itu diluar Alkitab (baik lisan maupun tertulis) bukanlah firman Allah.

Penerapannya:

Segala bentuk pewahyuan Lisan (bahasa lidah, nubuat, mimpi, penglihatan/visi, malaikat, nabi, rasul) maupun tertulis (kitab mormon, Eddy baker, al-quran dll) yang MUNCUL setelah Alkitab (PL dan PB = 66 kitab) selesai ditulis 100% bukan dari Allah, melainkan musuh Allah yang ingin menghancurkan kredibilitas Alkitab (Mzm. 11:3).

C). Oleh karena itu juga maka jabatan rasul dan nabi tidak lagi diperlukan setelah Alkitab selesai. Sebab para nabi dan rasul adalah fondasi terbentuknya Alkitab (Ef. 2:20). Sementara gembala, guru (pengajar), penginjil (pemberita Injil) masih diperlukan untuk mengajar firman Allah (Ef. 4:11-12).

D). Alkitab adalah SATU-SATUNYA firman Allah, maka kita bisa yakin juga bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya Jalan keselamatan. Hanya Alkitab satu-satunya otoritas yang HARUS kita yakini dan mendasari segala pengajaran kita.

Segala bentuk ajaran lain (tradisi, dekrit Paus, kesaksian subjektif, dll) adalah bukan otoritas dan bertentangan dengan Alkitab dan adalah suatu bentuk tindak-tanduk antikristus di akhir zaman (Yesus, roh, injil yang lain 2 Kor. 11:4) dan terkutuk (Gal. 1:8-9).

E). Hari ini, kalau orang ingin tahu dan mendapatkan KEBENARAN (Mat. 6:33; 1 Tim. 2:3-4) maka ia harus mencari, merenungkan, menyelidiki, mengujinya berdasarkan dan di dalam Alkitab.

Pengajaran (dotrin) yang BENAR seharusnya adalah ajaran yang paling sesuai dengan seluruh ayat Alkitab, tidak saling bertentangan satu bagian dengan bagian lainnya, dan yang paling logis.

F). Ketika ada 2 pernyataan yang berbeda/bertentangan, maka akal sehat kita menyimpulkan bahwa tidak mungkin keduanya benar. Kalau pihak A benar, maka B salah, demikian sebaliknya.

Untuk memastikan mana yang benar dan salah, keduanya harus diuji dengan SELURUH ayat Alkitab sebagai standar kebenaran sesungguhnya.

Kesimpulan yang benar adalah yang paling banyak di dukung ayat Alkitab, tidak saling bertentangan satu dengan lainnya, dan yang paling logis.

Doktrin Alkitab (Bibliology) Alkitab dari Kejadian 1:1 sampai Wahyu 22:21 adalah satu-satunya firman Tuhan. Tidak boleh ditambahi maupun dikurangi. Artinya, tidak ada lagi proses pewahyuan dalam segala bentuknya setelah Alkitab selesai diwahyukan. Tidak ada lagi karunia bernubuat dan berbahasa lidah karena baik nubuatan maupun bahasa lidah adalah bentuk proses pewahyuan.

Doktrin Tentang Gereja Tuhan – Ekklesiologi

A). Sejak Yohanes Pembaptis tampil, Allah menerapkan sistem ibadah yang baru, yaitu HAKEKAT, ROHANIAH, dan dalam KEBENARAN (HRK) – Luk. 16:16: Mat. 11:13; Yoh. 4:23.

Sebelumnya, di zaman P.L., Allah menerapkan sistem ibadah SIMBOLIK, RITUALISTIK, dan JASMANIAH (SRJ).

SRJ dibatasi oleh waktu (3x sehari), posisi (mengahadap atau kiblat ke Timur), dan cara(berlutut/sujud) –  Dan. 6:11.

Sementara sistem ibadah HRK tidak dibatasi ke-tiganya karena menyembah dengan hati (roh) dan dalam kebenaran (Yoh. 4:23).

B). Oleh karena itu, perintah untuk “Mari angkat tangan menyembah Tuhan” adalah sesuatu yang tidak diperlukan lagi dan adalah kekeliruan di dalam zaman ibadah Hakekat, sebab seolah-olah kalau tangannya tidak diangkat (turun) tidak dalam menyembah Tuhan.

Padahal, kini, Tuhan melihat sikap hati kita yang sujud menyembah Dia, bukan postur tubuh kita.

Implikasi kedua: Didalam acara kebaktian seringkali penulis dengar masih ada praktik atau perintah ” Mari kita msauk dalam penyembahan “.

Ini juga hal yang tidak perlu karena di zaman ibadah HRK segala tempat dan waktu adalah tempat ibadah kita. Jadi, bagaimana mungkin “masuk” lagi?

Hasil berikutnya dari sistem ibadah HRK adalah tidak ada lagi istilah ruang kudus, tempat suci, air suci, dll sebagaimana sistem ibadah SRJ di Perjanjian Lama. Tanah di Israel sekarang dengan di Indonesia sama saja, tidak ada beda.

Kemudian, kita menyebut hari minggu adalah sebagai acara kumpul berjemaat bukan ibadah :

Matius 18:20
Sebab di mana dua atau tiga orang *berkumpul* dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Kisah Para Rasul 20:7
Pada hari pertama dalam minggu itu, *ketika kami berkumpul* untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.

1 Korintus 11:18
Sebab pertama-tama aku mendengar, bahwa apabila kamu *berkumpul sebagai Jemaat*, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya.

Ibrani 10:25 (TB)  “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

Hebrews 10:25 (KJV)  Not forsaking the assembling of ourselves together, as the manner of some is; but exhorting one another: and so much the more, as ye see the day approaching.

Ibrani 10:25 (TR1894)  μη εγκαταλειποντες την επισυναγωγην εαυτων καθως εθος τισιν αλλα παρακαλουντες και τοσουτω μαλλον οσω βλεπετε εγγιζουσαν την ημεραν

Catatan : Dalam Ibrani 10:25, kata “ibadah” tidak ada dalam bahasa aslinya (Yunani) dan tertulis dengan lebih benar dalam terjemahan di KJV.

C) Berdoa adalah komunikasi anak (kalau sudah bertobat dan percaya) kepada Bapa. Ini bisa dilakukan sambil mengndarai mobil, memasak, dll, tidak terpatok HARUS tutup mata, angkat tangan dll sebab Allah melihat sikap hati kita. Tetapi demi supaya konsentrasi dengan baik, apalagi karena ingin serius maka kita memilih untuk tutup mata, ini pilihan yang sangat baik.

Ketiga doktrin utama tersebut di atas jika ditafsirkan dan dijalankan dengan benar ia pasti harmonis. Contoh, kalau baptisan tidak menyelamatkan, maka orang yang sedang sakit tidak perlu dibaptiskan melainkan hanya perlu diberitakan Injil yang benar. Salah satu cara menafsirkan Alkitab yang benar ialah, jika masih bisa ditafsirkan secara literal, tidak boleh ditafsirkan secara alegorikal. Kesimpulan yang benar adalah yang tidak bertentangan dengan akal sehat, dan didasarkan pada keseluruhan ayat Alkitab, bukan sebagian apalagi hanya beberapa ayat Alkitab.

Perlukah Dibaptis “Ulang”?

Pertanyaan ini menimbulkan pro-kontra. Sebenarnya tidak ada istilah “baptis ulang”. istilah ini dilabelkan kepada kelompok baptis oleh pihak musuh sebagai “olokkan”.

Alkitab pernah mencatat tentang peristiwa “pembaptisan ulang”:

Kis. 19:1-5:

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid.

Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.”

Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.”

Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.”

Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.

Pada peristiwa diatas sesungguhnya bukan maksud Paulus untuk membaptis “ulang” para murid yang telah dibaptis oleh Yohanes. Tetapi karena Paulus melihat mereka belum memenuhi syarat baptisan yang sah dihadapan Allah. Artinya, “baptisan” yang dulu mereka lakukan oleh Yohanes dihadapan Allah belum sah, dan mereka hanya “main air” saja.

Akhirnya, Paulus meluruskan iman mereka, dan mereka sunguuh-sungguh bertobat dan percaya saat itu, barulah syarat terpenuhi. Dan mereka “dibaptis” sekali lagi oleh Paulus. Kali ini dibaptis dengan sebenarnya, karena telah memenuhi syarat-syaratnya.

Jadi, perlu berapa kali dibaptis? Jika belum memenuhi ketiga syarat diatas, maka tidak masalah anda “dibaptis” lebih dari satu kali. Lebih baik “Dibaptis” lebih dari satu kali dan yang terkahir secara benar, daripada belum dibaptis secara sah / benar.

Penutup

Demikianlah hal-hal yang patut kita ketahui tentang “baptisan” dalam Alkitab. Kiranya kita semua dicerahkan dengan firman Tuhan dan taat / melaksanakan firmanNya dengan setepat-tepatnya.

Tuhan Yesus Kristus, Sang Khalik, memberkati. Maranata.

Tinggalkan Balasan