Kecanduan Smartphone / Media Sosial

(Berita Mingguan GITS 29 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Your smartphone is making you stupid, antisocial and unhealthy,” The Globe and Mail, 10 Apr. 2018: “Jika kita telah kehilangan kendali atas hubungan kita dengan smartphone, maka itu memang sesuai dengan desainnya. Faktanya, model bisnis dari alat-alat ini memang mengharuskan demikian. Karena kebanyakan website dan app yang paling populer tidak memungut bayaran, maka internet ditopang secara finansial oleh banyaknya perhatian manusia. Jadi, semakin lama dan semakin sering kamu menghabiskan waktu menatapi Facebook atau Google, semakin banyak jumlah uang yang bisa mereka tarik dari para pengiklan. Untuk memastikan bahwa mata kita tetap terpatri ke layar kita, yaitu smartphone kita – dan dunia-dunia digital yang tersambung dengannya – para raksasa internet telah menjadi sangat jago dalam meyakinkan, memanggil-manggil kita untuk mengecek mereka lagi dan lagi – dan untuk waktu yang lebih lama dari yang kita maksudkan. Para pemakai rata-rata mengecek telepon mereka sekitar 150 kali sehari, menurut beberapa perkiraan, dan itu sekitar dua kali lebih banyak dari estimasi mereka sendiri, menurut sebuah studi tahun 2015 yang dilakukan oleh psikolog-psikolog Inggris. Jika ditambahkan, maka para pengguna di Amerika Utara menghabiskan antara tiga hingga lima jam sehari menatapi smartphone mereka. Sebagaimana dinyatakan oleh profesor marketing dari New York University, Adam Alter, itu berarti bahwa dalam rentang waktu kehidupan rata-rata, kebanyakan dari kita akan menghabiskan tujuh tahun terbenam dalam komputer bawaan kita itu. Perusahaan-perusahaan ini telah berhasil meyakinkan kita untuk menyerahkan begitu banyak dari kehidupan kita dengan cara mengeksploitasi beberapa kelemahan manusia. Salah satunya adalah yang disebut NOVELTY BIAS (Bias Barang Baru). Ini berarti bahwa otak kita sungguh terpincut oleh barang-barang baru. … membuat kita tidak bisa tinggal tenang menghadapi notifikasi Facebook dan nada masuknya email. Itulah mengapa app media sosial terus merengek meminta anda untuk menyalakan notifikasi. Mereka tahu bahwa begitu icon-icon tersebut mulai berkedip di lock-screen anda, anda tidak akan mungkin bisa mengabaikannya. Ini juga alasan mengapa Facebook mengganti warna notifikasinya, dari biru tenang ke merah yang menarik perhatian. … Matt Mayberry, yang bekerja di perusahaan start-up California bernama Dopamine Labs, mengatakan bahwa adalah pengetahuan umum dalam industri bahwa Instagram mengeksploitasi rasa kecanduan ini dengan secara strategis menahan “like” dari pengguna tertentu. Jika app untuk saling berbagi foto tersebut memutuskan bahwa kamu perlu menggunakan pelayanan mereka lebih sering, ia akan hanya menampilkan sepersekian dari “like” yang kamu dapatkan pada post tertentu, awalnya, dengan harapan kamu akan kecewa dengan pendapatan “like” kamu dan mengecek kembali dalam satu atau dua menit ke depan. ‘Mereka menyerang rasa tidak nyaman terbesarmu,’ kata Mr. Mayberr. … Beberapa logika mental dari eksploitasi smartphone sangat jelas, tetapi ada yang tidak begitu jelas. Prinsip ‘hadiah bervariasi’ masuk dalam kategori kedua ini. Ditemukan oleh psikolog B.F. Skinner dan para pengikutnya dalam serangkaian eksperimen atas tikus dan merpati, prinsip ini memprediksikan bahwa makhluk akan lebih mungkin mencari hadiah jika mereka tidak yakin seberapa sering hadiah itu dbagikan. Merpati, misalnya, ditemukan lebih sering mematuk tombol untuk makanan, jika makanan itu dibagikan secara tidak konsisten daripada jika selalu konsisten waktunya, demikian penjabaran profesor hukum Columbia University, Tim Wu, dalam bukunya baru-baru ini: The Attention Merchants. Jadi begitu juga dengan app media sosial: walaupun empat dari lima post Facebook berisikan hal yang tidak berarti, feed yang me-refresh tanpa henti secara otomatis itu selalu menjanjikan adanya kata-kata bagus, atau gosip hangat, pas di bawah batasan layar, yang dapat diakses dengan melakukan swipe pada gelas kaca.”

Sumber: https://graphe-ministry.org/articles/2020/02/kecanduan-smartphone-media-sosial/

Tinggalkan Balasan

Kecanduan Smartphone / Media Sosial

(Berita Mingguan GITS 29 Februari 2020, sumber: www.wayoflife.org)

Berikut ini disadur dari “Your smartphone is making you stupid, antisocial and unhealthy,” The Globe and Mail, 10 Apr. 2018: “Jika kita telah kehilangan kendali atas hubungan kita dengan smartphone, maka itu memang sesuai dengan desainnya. Faktanya, model bisnis dari alat-alat ini memang mengharuskan demikian. Karena kebanyakan website dan app yang paling populer tidak memungut bayaran, maka internet ditopang secara finansial oleh banyaknya perhatian manusia. Jadi, semakin lama dan semakin sering kamu menghabiskan waktu menatapi Facebook atau Google, semakin banyak jumlah uang yang bisa mereka tarik dari para pengiklan. Untuk memastikan bahwa mata kita tetap terpatri ke layar kita, yaitu smartphone kita – dan dunia-dunia digital yang tersambung dengannya – para raksasa internet telah menjadi sangat jago dalam meyakinkan, memanggil-manggil kita untuk mengecek mereka lagi dan lagi – dan untuk waktu yang lebih lama dari yang kita maksudkan. Para pemakai rata-rata mengecek telepon mereka sekitar 150 kali sehari, menurut beberapa perkiraan, dan itu sekitar dua kali lebih banyak dari estimasi mereka sendiri, menurut sebuah studi tahun 2015 yang dilakukan oleh psikolog-psikolog Inggris. Jika ditambahkan, maka para pengguna di Amerika Utara menghabiskan antara tiga hingga lima jam sehari menatapi smartphone mereka. Sebagaimana dinyatakan oleh profesor marketing dari New York University, Adam Alter, itu berarti bahwa dalam rentang waktu kehidupan rata-rata, kebanyakan dari kita akan menghabiskan tujuh tahun terbenam dalam komputer bawaan kita itu. Perusahaan-perusahaan ini telah berhasil meyakinkan kita untuk menyerahkan begitu banyak dari kehidupan kita dengan cara mengeksploitasi beberapa kelemahan manusia. Salah satunya adalah yang disebut NOVELTY BIAS (Bias Barang Baru). Ini berarti bahwa otak kita sungguh terpincut oleh barang-barang baru. … membuat kita tidak bisa tinggal tenang menghadapi notifikasi Facebook dan nada masuknya email. Itulah mengapa app media sosial terus merengek meminta anda untuk menyalakan notifikasi. Mereka tahu bahwa begitu icon-icon tersebut mulai berkedip di lock-screen anda, anda tidak akan mungkin bisa mengabaikannya. Ini juga alasan mengapa Facebook mengganti warna notifikasinya, dari biru tenang ke merah yang menarik perhatian. … Matt Mayberry, yang bekerja di perusahaan start-up California bernama Dopamine Labs, mengatakan bahwa adalah pengetahuan umum dalam industri bahwa Instagram mengeksploitasi rasa kecanduan ini dengan secara strategis menahan “like” dari pengguna tertentu. Jika app untuk saling berbagi foto tersebut memutuskan bahwa kamu perlu menggunakan pelayanan mereka lebih sering, ia akan hanya menampilkan sepersekian dari “like” yang kamu dapatkan pada post tertentu, awalnya, dengan harapan kamu akan kecewa dengan pendapatan “like” kamu dan mengecek kembali dalam satu atau dua menit ke depan. ‘Mereka menyerang rasa tidak nyaman terbesarmu,’ kata Mr. Mayberr. … Beberapa logika mental dari eksploitasi smartphone sangat jelas, tetapi ada yang tidak begitu jelas. Prinsip ‘hadiah bervariasi’ masuk dalam kategori kedua ini. Ditemukan oleh psikolog B.F. Skinner dan para pengikutnya dalam serangkaian eksperimen atas tikus dan merpati, prinsip ini memprediksikan bahwa makhluk akan lebih mungkin mencari hadiah jika mereka tidak yakin seberapa sering hadiah itu dbagikan. Merpati, misalnya, ditemukan lebih sering mematuk tombol untuk makanan, jika makanan itu dibagikan secara tidak konsisten daripada jika selalu konsisten waktunya, demikian penjabaran profesor hukum Columbia University, Tim Wu, dalam bukunya baru-baru ini: The Attention Merchants. Jadi begitu juga dengan app media sosial: walaupun empat dari lima post Facebook berisikan hal yang tidak berarti, feed yang me-refresh tanpa henti secara otomatis itu selalu menjanjikan adanya kata-kata bagus, atau gosip hangat, pas di bawah batasan layar, yang dapat diakses dengan melakukan swipe pada gelas kaca.”

Tinggalkan Balasan